Muh. Asriadi AM_Mini Proposal Disertasi UNY 2022
PROPOSAL DISERTASI
HERMENEUTIKA KEMAMPUAN
BERPIKIR KRITIS DAN BERPIKIR KREATIF BERBASIS LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (LMS)
PADA MATA PELAJARAN FISIKA
Oleh:
MUH. ASRIADI AM
Proposal Disertasi
ini ditulis untuk memenuhi
sebagian persyaratan
untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan
PROGRAM STUDI PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran pada abad 21 tidak bisa terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi saat ini berlangsung sangat pesat (Herbert, Putro, Putra, & Fitriasari, 2019). Mulai dari teknologi, sains, sosial, ekonomi, maupun
pendidikan. Seiring dengan perkembangan
tersebut, setiap negara dituntut untuk memiliki sumber daya manusia yang memiliki
kecakapan hidup di abad ke-21 termasuk dalam lingkup pembelajaran. Keterampilan
yang dimaksud yaitu keterampilan berpikir kritis, kreativitas dan inovasi, pemecahan
masalah, pengambilan keputusan, belajar belajar, metakognisi, komunikasi,
kolaborasi, literasi informasi, dan literasi teknologi informasi (Griffin, McGaw, & Care, 2012). Selaras dengan tujuan perkembangan
abad 21 yang signifikan, terdapat tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia.
Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan keterampilan
peserta didik dengan segala macam regulasinya. Berdasarkan UU Republik
Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan
bahwa:
“Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin
pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan
efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan
tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu
dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan” (Depdiknas, 2003).
Dari undang-undang tersebut pemerintah melalui
penyelenggaraan pendidikan yang baik mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki keterampilan hidup agar mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan
lokal, nasional, dan global.
Fisika sebagai mata pelajaran yang dipelajari di tingkat
SMA memiliki kompetensi khusus. Faktanya bahwa fisika dianggap oleh sebagian
besar peserta didik sebagai salah satu mata pelajaran tersulit di tingkat SMA
apalagi yang mengambil program IPA (Arini & Juliadi, 2018). Ini disebabkan karena fisika memiliki karakteristik materi yang
mengharuskan penggunaan prosedur ilmiah dalam memahami konsep dasarnya (National Research Council, 2012). Kesulitan belajar fisika yang sering dialami peserta didik
dikategorikan menjadi 3 yaitu: (1) kesulitan berhitung yang berhubungan dengan keterampilan
peserta didik dalam berhitung khususnya dalam pelajaran fisika, (2) penguasaan
konsep yang menuntut peserta didik untuk mengerti akan konsep fisika serta
mengaitkan konsep yang satu dengan konsep lain yang saling berhubungan, dan (3)
mengartikan lambang dan mengkonversi satuan, disini peserta didik dituntut
mengerti akan lambang-lambang fisika. Kesulitan-kesulitan itu sebagian besar
baru dapat diketahui diakhir pembelajaran, baik dilihat dari hasil tes formatif
ataupun tes sumatif. Salah satu hal mampu mengatasi kesulitan dalam belajar fisika yaitu
meningkatkan kemampuan berpikir kritis
setiap peserta didik (Perdana, Riwayani, Jumadi, Rosana, & Soeharto, 2019). Namun karena kemampuan berpikir kritis diperlukan oleh peserta
didik dalam proses pembelajaran. Sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk
mengetahui seberapa besar kemampuan berpikir kritis yang dimiliki peserta didik
pada mata pelajaran fisika. Tes yang diperlukan disebut sebagai tes diagnostik.
Proses pembelajaran fisika
untuk Kurikulum 2013 meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan
Keterampilan berpikir
kreatif (creative
thinking skills)
juga sangat diperlukan pada abad ke-21 ini karena akan sangat membantu dalam
proses pemecahan masalah. Penelitian
Kuspriyanto (2013) menemukan bahwa keterampilan
fleksibilitas salah satu dari komponen berpikir kreatif bagi seorang fisikawan
sangat penting untuk memecahkan masalah yang menciptakan suatu keberhasilan. Nurmasari, N., Kusmayadi, A, T., dan Riyadi. (2014) menyatakan keterampilan berpikir kreatif
diperlukan dalam kehidupan sehari – hari untuk menghadapi era informasi dengan persaingan ketat.
Individu dengan keterampilan berpikir kreatif lebih mudah dalam menghadapi
masalah. Oleh karena itu, berpikir kreatif dalam fisika perlu diasah agar
dapat mengembangkan sebuah penemuan baru pada bidang fisika. Humairah (2019) menemukan creative thinking skills bidang matematis masih sangat rendah
sebanyak 38%. Keterampilan peserta didik rendah dikarenakan proses
pembelajaran kurang dirangsang dalam aspek keterampilan berpikir tingkat
tinggi. Peserta didik juga kurang kreatif saat mengerjakan soal karena masih
mengikuti cara guru dalam mengerjakan soal. Rodiyana (2015) pada penelitiannya juga menemukan terkait keterampilan berpikir kreatif pada peserta didik belum didukung
oleh pendidikan di Indonesia. Pemikiran kreatif peserta didik kurang berkembang
disebabkan oleh kurikulum yang difokuskan pada penyelesaian materi daripada
metode pengajaran
Pemanfaatan teknologi Industri 4.0 dalam pembelajaran fisika dapat
dilakukan dengan menerapkan Learning Management System (LMS) atau sistem
manajemen pembelajaran. LMS merupakan perangkat lunak berbasis jaringan
internet yang dirancang untuk mengelola program pembelajaran elektronik
(e-learning). Salah satu LMS yang terkenal adalah Moodle (singkatan dari Modular
Object-Oriented Dynamic Learning Environment). Moodle memiliki beberapa
keunggulan. Pertama, fiturnya lengkap. Moodle dapat digunakan untuk komunikasi
(chatting, messaging, atau forum), pembuatan dan pengadministrasian materi
pembelajaran, pelacakan perkembangan proses pembelajaran (data tracking), dan keterampilan
fungsinya yang dapat diperluas (extensibility plugin). Kedua, kemudahan
penggunaan. Hal ini disebabkan karena Moodle dapat
diatur secara fleksibel sesuai dengan kebijakan dan kebutuhan proses
pembelajaran di masing-masing institusi penggunanya. Keunggulan fitur,
kemudahan penggunaan, dan sifat LMS yang open source harusnya menjadikan
alasan untuk meninggalkan model pengelolaan proses pembelajaran tradisional.
Guru-guru perlu didorong untuk mengembangkan materi dan merancang proses
pembelajaran LMS. Dengan LMS penyajian bahan ajar bisa menjadi lebih menarik
karena memanfaatkan multimedia. Pengajaran tidak perlu tatap muka, atau jumlah
tatap muka dapat dikurangi, karena peserta didik dapat belajar kapanpun dan di
manapun. LMS mempunyai fitur kuis yang dapat digunakan guru untuk melakukan evaluasi
hasil belajar siswa. Evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
mengukur tingkat keberhasilan suatu program pendidikan (Arikunto, 2003).
Evaluasi ada proses pengukuran dan penilaian hasil belajar. Evaluasi berarti
memerlukan alat ukur, yang dalam proses belajar mengajar sering dinamakan
sebagai perangkat penilaian atau penugasan. Penilaian hasil belajar sebaiknya
dilakukan selama proses belajar mengajar dengan mengamati aspek aspek kognitif,
afektif, maupun psikomotor. Penilaian yang demikian disebut sebagai penilaian
kelas. Penilaian kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi
dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat
pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan,
yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian belajar yang
terdapat dalam kurikulum (Surapranata dan Hatta 2006: 4). Di
era Industri 4.0 salah satu perubahan cara penilaian hasil belajar adalah
dengan digunakannya aplikasi penilaian berbasis internet (Magno, 2019).
Kelebihan aplikasi penilaian berbasis internet adalah keterampilannya untuk
menyajikan tes dengan tingkat kesulitan soal yang sesuai dengan keterampilan
peserta tes. Tes yang demikian disebut dengan tes adaptif. Butir soal dalam tes
adaptif diambil dari kumpulan soal (bank soal) yang telah dikategorikan
berdasarkan konten dan tingkat kesulitan (Magis & von Davier, 2017). Tes
adaptif dapat menentukan keterampilan peserta tes dengan akurat meskipun jumlah
soal dan waktu pengerjaan berbeda-beda antar peserta tes. Selain itu, sebagai
tes berbasis komputer, tes adaptif dapat menunjukkan nilai akhir peserta tes
segera setelah tes selesai. Sebagai tes berbasis jaringan, tes adaptif dapat
menyajikan hasil seluruh peserta tes kepada guru atau administrator sistem.
Moodle yang diinstal modul Adaptive Quiz dapat digunakan untuk menyelenggarakan
penilaian adaptif. Sayangnya keterampilan LMS ini belum digunakan dalam pembelajaran khusus pada mata
pelajaran fisika. Oleh karena itu perlu
dirintis sebuah model asesmen
diagnostik yang didasari pada keterampilan abad 21 dan penilaian
adaptif pada pembelajaran
fisika.
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka identifikasi
masalah pada penelitian ini antara lain:
1. Tingkat critical
thinking skills dan creative?thinking skills peserta-didik masih-rendah
yang berlawanan dengan tuntutan abad ke-21.
2. Proses pembelajaran fisika kurang
dirangsang dalam aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi dan tuntutan keterampilan abad ke-21 yang harus dimiliki peserta
didik.
3.
Penggunaan
butir soal masih menggunakan paper and
pencils (PAP)
4.
Keterampilan LMS ini belum
digunakan dalam pembelajaran
khusus pada mata pelajaran fisika
5. Penggunaan asesmen diagnostik untuk mengidentifikasi keterampilan berpikir kritis dan kreatif
belum banyak tersedia
6.
Penggunaan
asesmen diagnostik yang teruji belum
banyak tersedia
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas maka peneliti berfokus pada
pengembangan model asesmen
diagnostik. Masalah dibatasi pada diagnosa keterampilan critical
& creative thinking-skills peserta-didik masih-rendah yang berlawanan
dengan tuntutan abad ke-21, penggunaan tes diagnostik three-tier
untuk mengidentifikasi keterampilan
berpikir kritis dan kreatif belum banyak tersedia, dan penggunaan
tes diagnostik berbasis komputer belum banyak tersedia. Oleh karena itu, perlu dikembangkan three tier diagnostic test menggunakan Moodle
untuk keterampilan abad ke-21 yaitu critical & creative thinking-skills pada pembelajaran fisika SMA.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
dijabarkan diatas, maka rumusan masalah yang aksan dijawab dalam penelitian
pengembangan ini adalah:
1. Bagaimana konstruksi model asesmen diagnostik yang dikembangkan untuk
mendiagnosis kelemahan keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills) dan keterampilan berpikir kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam pembelajaran Fisika SMA dengan bantuan Moodle?
2. Bagaimana kualitas instrumen diagnostik test yang dikembangkan?
3. Bagaimana hermeneutika kemampuan berpikir kritis (critical thinking skills) dan berpikir
kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam pembelajaran Fisika SMA?
4. Bagaimana
keefektifan model
penilaian diagnostik berbasis learning
management system (LMS) pada mata pelajaran fisika?
E. Tujuan Pengembangan
Tujuan pengembangan penelitian yaitu:
1. Mengembangkan konstruksi model asesmen diagnostik yang dikembangkan untuk mendiagnosis kelemahan keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills) dan keterampilan berpikir kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam
pembelajaran Fisika SMA dengan bantuan Moodle.
2. Menganalisis kualitas instrumen diagnostik test yang dikembangkan.
3. Mengetahui hermeneutika kemampuan berpikir kritis (critical thinking skills) dan berpikir kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam pembelajaran Fisika SMA.
4. Menganalisis keefektifan model asesmen diagnostik berbasis learning management system (LMS) pada mata pelajaran fisika
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1.
Model Asesmen
a. Konsep Evaluasi,
Pengukuran, dan Penilaian
Evaluasi dalam bidang pendidikan,
memiliki tiga istilah yang sering digunakan, yaitu pengukuran, penilaian, dan
evaluasi. Pengukuran
atau dalam bahasa Inggrisnya measurement adalah kegiatan mengukur, yakni
membandingkan sesuatu dengan kriteria/ukuran tertentu. Dapat juga dikatakan,
pengukuran adalah proses pemberian angka kepada suatu atribut atau karakter
tertentu yang dimiliki oleh orang atau objek tertentu menurut aturan atau
formulasi yang jelas (Allen & Yen, 1979). Dari
uraian tersebut dapat dikatakan bahwa pengukuran adalah penetapan angka dengan
cara yang sistematik untuk menunjukkan keadaan individu.
Ditinjau dari sudut bahasa,
penilaian dikenal dengan kata assessment yang diartikan sebagai proses menentukan
nilai suatu objek. Menurut Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang standar
penilaian pendidikan, penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik (Kemendikbud RI, 2016). Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap
hasil-hasil belajar yang dicapai peserta didik dengan kriteria tertentu. Hal
ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar peserta
didik (Direktur Tenaga Kependidikan, 2008). Penilaian adalah
suatu tindakan untuk memberikan interpretasi terhadap hasil pengukuran, dengan
menggunakan norma tertentu, untuk mengetahui tinggi/rendahnya atau baik
buruknya aspek tertentu. Penilaian mencakup semua cara yang digunakan untuk
menilai unjuk kerja individu atau kelompok. Proses
asesmen meliputi pengumpulan bukti-bukti tentang pencapaian belajar peserta
didik. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa penilaian adalah pengumpulan
informasi untuk membandingkan antara apa yang dicapai dengan kriteria yang
harus dicapai peserta didik.
2.
Hermeneutika
Penelusuran kata modern dari “hermeneutika” dan “hermeneutis” mengasumsikan proses
“membawa sesuatu untuk dipahami”, proses ini melibatkan bahasa, karena bahasa
dianggap sebagai mediasi paling sempurna dalam sebuah proses (Palmer, 2016). Proses
membawa, menerjemahkan pesan agar dipahami yang menjadi tugas hermes ini
terkandung dalam tiga bentuk makna dasar dari “hermeneunein” dan “hermeneia”
yang dalam penggunaan aslinya yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata, “to say”, (2) menjelaskan, “to explain” dan (3) menerjemahkan “to translate” ketiga makna itu bisa
diwakilkan dalam bentuk kata kerja bahasa inggris “to interpret”. Hermeneutika
sebagai interpretasi bertugas membuat sesuatu yang kabur, jauh dan gelap
maknanya menjadi sesuatu yag jelas, dekat dan dapat dipahami (Terry, 1885).
3.
Tes Diagnostik
a.
Pengertian Tes
Diagnostik
Tes adalah bagian dari evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Tes merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam evaluasi, terdiri dari sejumlah pertanyaan atau butir-butir soal yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi melalui respon peserta tes (Diputera, 2018).. Hasil tes kemudian dapat digunakan untuk membuat keputusan tentang seorang murid (memberikan nilai, merekomendasikan untuk program lanjutan), instruksi (ulangi, ulas, lanjutkan), kurikulum (mengganti, merevisi), atau faktor pendidikan lainnya (Kubiszyn & Borich, 2013). Tes dapat berupa sejumlah pertanyaan atau permintaan melakukan sesuatu untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, intelegensi, bakat, atau keterampilan lain yang dimiliki oleh seseorang. Istilah diagnostik dapat diuraikan dari asal katanya yaitu diagnosis yang berarti mengidentifikasi penyakit dari gejala-gejala yang ditimbulkannya. Pemeriksaan awal seperti ini disebut mendiagnosis. Demikian halnya seorang guru terhadap peserta didiknya. Sebelum dapat memberikan bantuan dengan tepat, guru harus memberikan tes diagnostik (Depdiknas RI, 2007). Tes diagnostik merupakan tes yang dapat digunakan untuk mengetahui secara tepat dan memastikan kelemahan dan kekuatan peserta didik pada pelajaran tertentu (Zaleha, Samsudin, & Nugraha, 2017). Hasil tes diagnostik dapat digunakan untuk melakukan intervensi yang efektif kepada peserta didik secara individual atau klasikal, dalam upaya mengevaluasi proses pembelajaran. Tes diagnostik tidak hanya memberikan informasi berupa angka sebagai indikator keterampilan peserta didik, namun juga mendeskripsikan penguasaan peserta didik pada sub keterampilan tertentu (Hadi, Ismara, & Tanumihardja, 2015). Tes diagnostik akan sangat bermanfaat untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik dan merupakan langkah awal untuk perbaikan proses belajar mengajar (Triumiana & Sudarsono, 2017). Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan tindak lanjut berupa perlakuan yang tepat dan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki peserta didik.
4. Learning Management System (LMS)
Learning management system (LMS) adalah aplikasi perangkat lunak untuk kegiatan dalam
jaringan, program pembelajaran elektronik (e-learning program), dan isi
pelatihan (Bradley, 2020).
Sebuah LMS yang kuat harus bisa melakukan hal berikut:
a)
Menggunakan layanan self-service
dan self-guided
b)
Mengumpulkan dan menyampaikan
konten pembelajaran dengan cepat
c)
Mengkonsolidasikan inisiatif
pelatihan pada platform berbasis web scalable
d)
Mendukung portabilitas dan standar
e) Personalisasi isi dan memungkinkan penggunaan kembali pengetahuan. LMS merupakan sistem untuk mengelola catatan pelatihan dan pendidikan, perangkat lunaknya untuk mendistribusikan program melalui internet dengan fitur untuk kolaborasi secara online. Dimensi untuk sistem manajemen meliputi students self-service (misalnya, registrasi mandiri yang dipimpin instruktur pelatihan), alur kerja pelatihan (misalnya, pemberitahuan pengguna, persetujuan manajer, daftar tunggu manajemen), penyediaan pembelajaran online (misalnya, pelatihan berbasis komputer, membaca & memahami), penilaian online, manajemen pendidikan profesional berkelanjutan, pembelajaran kolaboratif (misalnya, berbagi aplikasi, diskusi), dan pelatihan manajemen sumber daya (misalnya, instruktur, fasilitas, peralatan) (Herbert dkk., 2019). LMS juga digunakan oleh institusi pendidikan untuk meningkatkan dan mendukung program pengajaran di kelas dan menawarkan pelatihan untuk populasi yang lebih besar. Ada banyak produk LMS. Beberapa LMS yang berlisensi open source adalah Moodle, Claroline, Dokeos, Docebo, ATutor, Chamilo, OLAT, dan masih banyak lagi.
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasar
kajian teori, kajian penelitian yang relevan dan kerangka pikir, maka
pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1.
Bagaimana model asesmen diagnostik
berbasis LMS untuk keterampilan abad
21 pada mata pelajaran fisika?
2.
Bagaimana konstruk instrumen
keterampilan berpikir kritis pada mata pelajaran fisika?
3.
Bagaimana konstruk instrumen
keterampilan berpikir kreatif
pada mata pelajaran fisika?
4.
Bagaimana uji kecocokan model asesmen diagnostik
berbasis LMS untuk keterampilan abad
21 pada mata pelajaran fisika?
5.
Bagaimana
hasil diagnosa keterampilan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran
fisika
Bagaimana profil keterampilan berpikir kreatif pada mata pelajaran fisika
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Model
Pengembangan
Jenis
penelitian ini adalah penelitian pengembangan atau biasa disebut dengan Research
and Development (R&D) yaitu suatu metode
penelitian yang mengembangkan suatu produk sesuai kriteria yang telah
ditetapkan dan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian pengembangan
merupakan suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk
baru atau menyempurnakan produk yang telah ada dan produk tersebut dapat
dipertanggungjawabkan. Produk yang dihasilkan berupa model asesmen diagnostik. Model tes ini diteliti
kualitas dari segi validitas dan reliabilitasnya oleh para ahli melalui expert judgment dan hasil tes
dianalisis menggunakan teori
respon butir.
B. Prosedur Pengembangan
Berdasar kajian teoritik model penelitian pengembangan yang sudah disajikan, penelitian ini menggunakan modifikasi model penelitian pengembangan Borg & Gall dan Plomp. Dari sepuluh langkah dari model Borg & Gall diringkas menjadi lima tahap, seperti yang dikembangkan dalam model Plomp. Tahap-tahap tersebut adalah: (1) melakukan studi pendahuluan, (2) mengembangkan design, (3) mengembangkan dan melakukan validasi produk, (4) uji coba lapangan, (5) diseminasi/implementasi.
A. Desain Uji Coba Produk
1.
Desain Uji Coba
langkah-langkah
pengembangan model asesmen diagnostik diuraikan sebagai berikut.
a. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dalam penelitian
ini meliputi beberapa kegiatan, yaitu: (1) kajian literatur, (2) mengkaji hasil-hasil
penelitian, dan (3) prasurvei. Pada kegiatan kajian literatur, kegiatan yang
dilakukan adalah mengumpulkan dan mendokumentasikan bahan-bahan pendukung
penelitian, yang berkaitan dengan pengembangan penilaian formatif, konsep
berpikir kritis, teori-teori, konsep dan dalil-dalil yang berkaitan dengan
penilaian diagnostik dalam berpikir kritis dan
berpikir kreatif pada pembelajaran fisika. Dari kegiatan
kajian literatur ini diharapkan diperoleh model asesmen diagnostik yang dapat mengukur keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif pada pembelajaran fisika.
Kegiatan berikutnya adalah melakukan
kajian hasil-hasil penelitian sehingga diperoleh wawasan penelitian yang
berhubungan dengan teori, prosedur, langkah-langkah dan cara-cara yang
digunakan dalam penelitian pengembangan. Melalui kegiatan ini diharapkan
diperoleh kajian empirik tentang implementasi penilaian formatif keterampilan
berpikir kritis. Kegiatan selanjutnya dalam studi pendahuluan adalah kegiatan
pra survei. Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi atau
data yang dibutuhkan yang berhubungan dengan siswa, proses pembelajaran, dan
penilaian pembelajaran matematika, serta latar belakang dan pandangan guru fisika tentang
pelaksanaan penilaian pembelajaran fisika di MAN. Pada kegiatan pra survei ini melibatkan 6 guru fisika dari 3 sekolah yang
terdiri atas 2 sekolah negeri dan 1 sekolah swasta
b.
Mengembangkan Desain Penelitian
1)
Perancangan Awal
Pada tahap ini, kegiatan yang
dilakukan adalah mengembangkan draft dan rancangan uji coba awal prototipe,
sehingga diperoleh umpan balik dari kegiatan uji coba. Draf awal
dikembangkan dengan melibatkan para ahli dalam bidang. penelitian pengembangan. Perancangan diawali
dengan pengembangan konstruk asesmen diagnostik
untuk keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif pada
materi pembelajaran fisika, jenis dan bentuk instrumen, diakhiri pengembangan produk. Untuk
mengukur keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran matematika,
dikembangkan instrumen berbentuk tes esai terbuka (open ended), sedangkan
disposisi keterampilan berpikir kritis dikembangkan berbentuk angket dengan
skala likert Langkah berikutnya adalah penyusunan kisi-kisi. Kegiatan ini bertujuan
agar butir-butir tes yang akan dibuat memenuhi validitas isi. Kisi-kisi tes
disajikan dalam bentuk matriks yang memuat komponen-komponen seperti: materi
yang diujikan, aspek tingkah laku yang diukur, dan tingkatan perkembangan
kognitif yang yang diamati atau diukur. Aspek kognitif yang akan diukur dalam
penelitian ini ditetapkan berdasarkan definisi operasional keterampilan
berpikir kritis siswa SMA pada mata pelajaran fisika. Aspek kognitif
tersebut terdiri atas keterampilan interpretasi, keterampilan analisis, keterampilan
evaluasi, keterampilan inferensi, dan keterampilan eksplanasi. Aspek isi materi
ditetapkan berdasarkan hasil kajian tentang materi matematika yang mendukung
pencapaian standar kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam Standar Isi
(SI) mata pelajaran matematika pada jenjang SMA kelas XI. Berdasarkan hasil uji
dokumentasi diperoleh lima materi yang diukur dengan instrumen yang
dikembangkan, yaitu: (1)GLB
dan GLBB, (2) Gerak Melingkar, (3) Gerak Parabola, (4) Dinamika Partikel dan Hukum Newton (5) Usaha dan
Energi.
2)
Validasi Produk
a)
Validasi Ahli
Kegiatan
validasi oleh ahli bertujuan untuk menilai kelayakan dasar-dasar teori yang
digunakan, mengembangkan instrumen model penilaian produk, dan mengungkapkan
informasi terkait keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran matematika
SMA. Validasi oleh para ahli dalam penelitian ini menggunakan teknik delphi,
melibatkan ahli dibidang pendidikan fisika, psikologi dan psikometri. Hasil masukan
setiap ahli selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan instrumen.
b)
Validitas Empiris
Validitas
empiris instrumen penelitian direncanakan diujicobakan terhadap beberapa siswa
kelas XI dari beberapa SMA baik negeri dan swasta di kabupaten Sukoharjo. Hasil
uji coba kemudian dianalisis dengan menggunakan teori respon butir satu parameter. Sebelum
dilakukan analisis menggunakan teori respon butir, terlebih dahulu dilakukan
uji unidimensional dan CFA menggunakan software JASP.
c.
Mengembangkan dan
Validasi Produk
Pada tahap ini dilakukan uji keterbacaan
terhadap beberapa guru matematika dan dilanjutkan uji coba awal. Selama uji
coba berlangsung, peneliti melakukan monitoring dan wawancara terhadap guru dan
siswa untuk memperoleh data sebagai bahan untuk melakukan revisi, refleksi dan
bahan uji coba berikutnya. Rancangan produk mencakup tujuan penggunaan produk,
pengguna, deskripsi komponen-komponen dan penggunaan produk, sampai diperoleh
draf model. Draf model terdiri atas perancangan model dan perencanaan uji coba.
d.
Melakukan Uji Coba
Uji coba lapangan bertujuan untuk memperoleh
bukti-bukti empirik tentang kelayakan produk yang sedang dikembangkan sesuai
dengan performa objektif, menentukan berhasil tidaknya produk dan untuk mengumpulkan
informasi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas produk. Kegiatan ini
berupa siklus yang dapat dilakukan secara berulang-ulang sampai revisi produk
sesuai dengan performa objektif. Langkah selanjutnya adalah uji coba lapangan
operasional. Tujuan kegiatan ini untuk menentukan apakah produk yang
dikembangkan benar-benar siap untuk digunakan.
e.
Desiminasi/Implementasi
Diseminasi adalah proses sosialisasi
terhadap pengguna produk penelitian pengembangan. Implementasi adalah proses
penerapan produk penelitian pengembangan sesuai dengan tujuan yang
direncanakan. Bentuk kegiatan desiminasi berupa seminar-seminar yang melibatkan
para praktisi dan birokrasi pendidikan.
2.
Subjek Uji Coba
Subjek
penelitian dalam penelitian pengembangan ini adalah peserta didik Kelas XI MAN di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
dengan menggunakan Stratified Random Sampling sebagai teknik sampingnya. Stratified random sampling adalah proses dimana subkelompok atau strata tertentu dipilih
sebagai sampel proporsi yang sama dengan yang ada dalam populasi (Fraenkel & Wallen, 2009). Jumlah subyek coba pada
penelitian ini direncanakan sebanyak 200 peserta dan 10 guru pengampu pelajaran fisika, terbagi atas 20 siswa dan 1 guru pada uji coba
keterbacaan, 80 siswa dan 4 guru pada uji coba terbatas dan 100 siswa dan 5 guru pada ujicoba
diperluas.
3.
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
a.
Teknik
Pengumpulan Data
1)
Metode
Observasi
Dalam penelitian ini,
pelaksanaan observasi dilakukan sebelum hingga implementasi produk yang
dikembangkan. Observasi pertama kali dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata
sekolah yang akan dilakukan penelitian. Hasil pelaksanaan observasi digunakan
untuk memperoleh data-data pendukung yang dapat digunakan sebagai bahan acuan
dalam mengembangkan produk. Observasi kedua dilakukan oleh observer guna menilai
keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan ketika implementasi produk
yang dikembangkan.
2)
Forum Group Discussion
Instrumen penilaian yang telah
dikembangkan dibahas dalam forum diskusi yang terdiri dari ahli diantaranya
Dosen, Guru dan dan Ahli lainya. Setiap ahli diminta mengemukakan kritik dan saran untuk perbaikan
instrumen
3)
Metode Tes
Pelaksanaan tes bertujuan menganalisis dan mendiagnosis keterampilan
berpikir kritis dan berpikir kreatif peserta didik pada mata pelajaran fisika.
Dalam penelitian ini tes dilakukan satu kali. Tes yang diberikan pada saat
pembelajaran dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan berpikir
kritis peserta didik dalam kegiatan pembelajaran fisika dan menganalisis bagian mana dari kegiatan pembelajaran
yang menimbulkan masalah bagi peserta didik.
b. Instrumen
Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1)
Lembar Validasi
Lembar validasi ahli digunakan untuk memperoleh data tentang kevalidan model penilaian yang dikembangkan. Data yang dikumpulkan merupakan data tentang
kevalidan seluruh instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini.
2)
Modul Asesmen Diagnostik
Keterampilan Berpikir Kritis
Modul asesmen diagnostik digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan tes
dari awal sampai pada penentuan solusi permasalahan yang dihadapi peserta didik.
3)
Tes Diagnostik
Tes diagnostik yang di maksud adalah tes
yang diberikan dalam proses pembelajaran. Tes
ini diberikan setelah peserta didik diberikan setelah pemberian tes formatif
oleh guru.
4)
Rubrik Penskoran dan
Penafsiran Hasil Tes
Rubrik penskoran dan
penafsiran hasil tes adalah pedoman yang digunakan untuk memberikan skor dan
penafsiran hasil tes diagnostik keterampilan berpikir
kritis pada mata
pelajaran fisika
4.
Teknik Analisis Data
a.
Analisis Data Kevalidan
Data hasil penelitian yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis
dengan beberapa cara sebagai berikut:
1) Analisis Validitas Isi
Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement. Validitas isi mengukur sejauh mana elemen-elemen dalam suatu instrumen ukur benar-benar relevan. Data hasil penilaian oleh validator ahli dan praktisi dari lembar validasi instrumen penilaian dianalisis untuk mengetahui validitas isi dari model asesmen diagnostik yang dikembangkan. Validitas isi merupakan telaah yang berkaitan dengan kesesuaian item soal terhadap indikator. Ahli yang digunakan merupakan ahli pengukuran dan ahli materi, penilaian yang dilakukan dalam isi instrumen dengan memberikan skor nilai 1 sampai 5 dengan kategori tidak relevan, kurang relevan, relevan, dan sangat relevan. Selanjutnya, skor dari validator/ ahli instrumen yang didapatkan. Pada penelitian ini, hasil validitas isi dari para ahli melalui expert judgement dianalisis menggunakan, formula Aiken
1)
Analisis Validitas Konstruk
Validitas konstruk menggunakan Exploratory
Factor Analysis dan
Confirmatory Factor Analysis. Kriteria yang dijadikan dasar untuk melihat valid tidaknya
instrumen adalah butir yang memiliki muatan faktor> 0,5, adalah butir yang
akan dipertahankan sebagai butir yang valid. Memiliki muatan faktor di atas
0,30, dipertimbangkan untuk dilakukan analisis). Apabila butir memiliki lebih
dari satu muatan faktor di atas 0,30 yang mendekati sama, maka butir tersebut
digugurkan karena tidak berdimensi tunggal (Hair, Black, Babin, & Anderson, 2009).
2) Analisis Reliabilitas
Perhitungan reliabilitas instrumen menggunakan Alpha dari Cronbach, Rumus Alpha digunakan untuk mengestimasi reliabilitas instrumen yang skornya bukan hanya 1 dan 0, namun juga skala politomus, misalnya angket (skala likert 1-2-3-4-5) atau soal bentuk uraian
3) Analisis Butir Soal
Analisis kualitas butir soal dianalisis menggunakan Teori Respon Butir (TRB)/Item Response Teori (IRT). Analisis butir soal model tes diagnostik keterampilan berpikir kritis yang berbentuk pilihan ganda two tier (2 tingkat) akan dianalisis menggunakan teori respon butir Parameter (3PL). Model tiga parameter logistik (3PL) memungkinkan ICC untuk memiliki asymptotes non-nol (zero) lebih rendah. Model ini lebih cocok untuk data respon item dimana peserta tes pada tingkat kemahiran yang sangat rendah mungkin menjawab item dengan benar secara kebetulan yang dapat terjadi pada item pilihan ganda (Diputera, 2018).
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, A. Z., Istiyono, E., Fadilah, N., & Dwandaru, W. S. B. (2019). A computerized adaptive test for measuring the physics critical thinking skills in high school students. International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE), 8(3), 376–383. https://doi.org/10.11591/ijere.v8i3.19642
Alkhateeb, M. A., & Abdalla, R. A. (2021). Factors Influencing
Student Satisfaction Towards Using Learning Management System Moodle. International
Journal of Information and Communication Technology Education, 17(1),
138–153. https://doi.org/10.4018/IJICTE.2021010109
Allen, M. J., & Yen, W. M. (1979). Introduction to
Measurement Theory. California: Wadsworth.Inc.
Arief, M. K., Handayani, L., & Dwijananti, P. (2012).
Identifikasi Kesulitan Belajar Fisika Pada Siswa RSBI: Studi Kasus di Rsmabi Se
Kota Semarang. Unnes Physics Journal, 1(2), 5–10.
https://doi.org/10.15294/upej.v1i2.1354
Arini, W., & Juliadi, F. (2018). Analisis Kemampuan Berpikir
Kritis Pada Mata Pelajaran Fisika untuk Pokok Bahasan Vektor Siswa Kelas X SMA
Negeri 4 Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Berkala Fisika Indonesia, 10(1),
1–11. http://dx.doi.org/10.12928/bfi-jifpa.v10i1.9485
Aybek, E. C., & Demirtasli, R. N. (2017). Computerized Adaptive
Test (CAT) Applications and Item Response Theory Models for Polytomous Items. INTERNATIONAL
JOURNAL OF RESEARCH IN EDUCATION AND SCIENCE, 3(2), 475–475.
https://doi.org/10.21890/ijres.327907
Bandyopadhyay, S., & Szostek, J. (2019). Thinking critically
about critical thinking: Assessing critical thinking of business students using
multiple measures. Journal of Education for Business, 94(4),
259–270. https://doi.org/10.1080/08832323.2018.1524355
Bowell, T., & Kemp, G. (2011). Critical Thinking: A Concise
Guide. 286.
Bradley, V. M. (2020). Learning Management System (LMS) Use with
Online Instruction. International Journal of Technology in Education, 4(1),
68–92. https://doi.org/10.46328/ijte.36
Bunawan, W., Setiawan, A., Rusli, A., & Nahadi. (2015).
Penilaian Pemahaman Representasi Grafik Materi Optika Geometri Menggunakan Tes
Diagnostik. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 2(2), 257–267.
https://doi.org/10.21831/cp.v2i2.4830
Caleon, I. S., & Subramaniam, R. (2010). Do Students Know What
They Know and What They Don’t Know? Using a Four-Tier Diagnostic Test to Assess
the Nature of Students’ Alternative Conceptions. Research in Science
Education, 40(3), 313–337. https://doi.org/10.1007/s11165-009-9122-4
Choe, E. M., & Fu, Y. (2018). Computerized Adaptive and
Multistage Testing with R: Using Packages catR and mstR. Measurement:
Interdisciplinary Research and Perspectives, 16(4), 264–267.
https://doi.org/10.1080/15366367.2018.1520560
Copriady, J., Iswandari, S. N., Noer, A. M., & Albeta, S. W.
(2020). Pengembangan E-Modul Berbasis Moodle Pada Materi Hidrokarbon. EDUSAINS,
12(1), 81–88. https://doi.org/10.15408/es.v12i1.11503
Cronbach, L. J. (1951). Coefficient Alpha and The Internal Structure
of Tests. Psychometrika, 16(3), 297–334.
https://doi.org/10.1007/BF02310555
de Glopper, K. (2002). Fisher, Alec and Scriven, Michael (1997).
Critical Thinking. Its Definition and Assessment. Argumentation, 16(2),
247–251. https://doi.org/10.1023/A:1015597228975
Depdiknas. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Depdiknas RI. (2007). Tes Diagnostik. Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Pertama, 24.
Diputera, A. M. (2018). ANALISIS IRT MENGGUNAKAN WINGEN 3: Teori
Respon Butir & Aplikasi. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia.
Direktur Tenaga Kependidikan. (2008). Penilaian Hasil Belajar.
Jakarta: Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal
Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan
Nasional.
Dwyer, C. P., & Walsh, A. (2020). An exploratory quantitative
case study of critical thinking development through adult distance learning. Educational
Technology Research and Development, 68(1), 17–35.
https://doi.org/10.1007/s11423-019-09659-2
Ennis, R. H. (1958). An Appraisal of the Watson-Glaser Critical
Thinking Appraisal. The Journal of Educational Research, 52(4),
155–158. https://doi.org/10.1080/00220671.1958.10882558
Ennis, R. H. (1993). Critical thinking assessment. Theory Into
Practice, 32(3), 179–186. https://doi.org/10.1080/00405849309543594
Ennis, R. H. (2011). The Nature of Critical Thinking: An Outline of
Critical Thinking Dispositions and Abilities. Inquiry: Critical Thinking
Across the Disciplines, 26(2), 4–4.
https://doi.org/10.5840/inquiryctnews201126214
Epstein, R. L., & Kernberger, C. (2006). Critical Thinking
(3rd ed). Australia ; Belmont, CA: Thomson/Wadsworth.
Febliza, A., & Okatariani, O. (2020). The Development of Online
Learning Media by Using Moodle for General Chemistry Subject. Journal of
Educational Science and Technology (EST), 6(1), 40.
https://doi.org/10.26858/est.v6i1.12339
Fraenkel, J. R., & Wallen, N. E. (2009). How to design and
evaluate research in education (7th ed). New York, NY: McGraw-Hill.
Griffin, P., McGaw, B., & Care, E. (Ed.). (2012). Assessment
and Teaching of 21st Century Skills. Dordrecht: Springer Netherlands.
https://doi.org/10.1007/978-94-007-2324-5
Grimard Wilson, D., & Wagner, E. E. (1981). The Watson-Glaser
Critical Thinking Appraisal as a Predictor of Performance in a Critical
Thinking Course. Educational and Psychological Measurement, 41(4),
1319–1322. https://doi.org/10.1177/001316448104100443
Hadi, S., Ismara, K. I., & Tanumihardja, E. (2015). Pengembangan
Sistem Tes Diagnostik Kesulitan Belajar Kompetensi Dasar Kejuruan Siswa SMK. Jurnal
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 19(2), 168–175.
https://doi.org/10.21831/pep.v19i2.5577
Hair, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., & Anderson, R. E.
(2009). Multivariate Data Analysis (7th Edition) (7 th). New Jersey,
USA: Prentice Hall.
Hambleton, R. K., & Swaminathan, H. (1985). Item Response
Theory. Dordrecht: Springer Netherlands.
https://doi.org/10.1007/978-94-017-1988-9
Hambleton, R. K., Swaminathan, H., & Rogers, H. J. (1991). Fundamentals
of item response theory. Newbury Park, Calif: Sage Publications.
Hardyanto, R. H., & Surjono, H. D. (2016). Pengembangan dan
Implementasi E-Learning Menggunakan Moodle dan Vicon Untuk Pelajaran Pemrograman
Web di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 6(1), 43–53.
https://doi.org/10.21831/jpv.v6i1.6675
Hartini, T. I., Kusdiwelirawan, A., & Fitriana, I. (2014).
Pengaruh Berpikir Kreatif dengan Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap
Prestasi Belajar Fisika Siswa Dengan Menggunakan Tes Open Ended. Jurnal Pendidikan
IPA Indonesia, 3(1), 8–11. https://doi.org/10.15294/jpii.v3i1.2902
Haryanto, H. (2013). PENGEMBANGAN COMPUTERIZED ADAPTIVE TESTING
(CAT) DENGAN ALGORITMA LOGIKA FUZZY. Jurnal Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan, 15(1), 47–70. https://doi.org/10.21831/pep.v15i1.1087
Hassan, K. E., & Madhum, G. (2007). Validating the Watson Glaser
Critical Thinking Appraisal. Higher Education, 54(3), 361–383.
https://doi.org/10.1007/s10734-006-9002-z
Herbert, Putro, B. L., Putra, R. R. J., & Fitriasari, N. S.
(2019). Learning Management System (LMS) model based on machine learning
supports 21st century learning as the implementation of curriculum 2013. Journal
of Physics: Conference Series, 1280, 032032.
https://doi.org/10.1088/1742-6596/1280/3/032032
Husen, D. N. (2015). PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA
MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING. Jurnal ßIOêduKASI, 3(2),
367–372.
Istiyono, E. (2020). Developing Instrument of Essay Test to Measure
the Problem-Solving Skill in Physics. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia,
16(2), 72–82. https://doi.org/10.15294/jpfi.v16i2.24249
Istiyono, E., Dwandaru, W. B., Setiawan, R., & Megawati, I.
(2020). Developing of Computerized Adaptive Testing to Measure Physics Higher
Order Thinking Skills of Higher School Students and its Feasibility of Use. European
Journal of Educational Research, 9(1), 91–101.
https://doi.org/10.12973/eu-jer.9.1.91
Istiyono, E., Dwandaru, W. S. B., & Faizah, R. (2018). Mapping
of physics problem-solving skills of senior high school students using
PhysProSS-CAT. Research and Evaluation in Education, 4(2),
144–154. https://doi.org/10.21831/reid.v4i2.22218
Kemendikbud RI. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Kemendikbud RI. (2020). Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Ketabi, S., Alavi, D. S. M., & Ravand, D. H. (2021). Diagnostic
Test Construction: Insights from Cognitive Diagnostic Modeling. International
Journal of Language Testing, 11(1), 22–35.
Kubiszyn, T., & Borich, G. D. (2013). Educational Testing and
Measurement_ Classroom Application and Practice. USA: Wiley.
Mason, A. J., & Singh, C. (2016). Surveying college introductory
physics students’ attitudes and approaches to problem solving. European
Journal of Physics, 37(5), 055704.
https://doi.org/10.1088/0143-0807/37/5/055704
Mas’ula, N., & Rokhis, T. A. (2020). Pengembangan Instrumen Tes
Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Pada Pokok Bahasan Kinematika. SAP
(Susunan Artikel Pendidikan), 4(3). https://doi.org/10.30998/sap.v4i3.6279
Mundilarto, D. (2010). Penilaian Hasil Belajar Fisika. Pusat
Pengembangan Instruksional Sains (P2IS) Jurdik Fisika FPMIPA UNY.
National Research Council. (2012). A FRAMEWORK FOR K-12 SCIENCE
EDUCATION Practices, Crosscutting Concepts, and Core Ideas. Washington, DC:
The National Academies Press.
OECD. (2018). Programme for International Student Assessment
(PISA) Result From PISA 2018. Paris : OECD Publishing.
OECD. (2019). PISA 2018 Assessment and Analytical Framework.
Paris: Paris: OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/b25efab8-en
Perdana, R., Riwayani, R., Jumadi, J., Rosana, D., & Soeharto,
S. (2019). Specific Open-Ended Assessment: Assessing Students’ Critical
Thinking Skill on Kinetic Theory of Gases. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika
Al-Biruni, 8(2), 127–140. https://doi.org/10.24042/jipfalbiruni.v0i0.3952
Pratiwi, I. (2019). EFEK PROGRAM PISA TERHADAP KURIKULUM DI
INDONESIA. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 4(1), 51.
https://doi.org/10.24832/jpnk.v4i1.1157
Prihatni, Y., Kumaidi, K., & Mundilarto, M. (2016). Pengembangan
Instrumen Diagnostik Kognitif Pada Mata Pelajaran IPA di SMP. Jurnal
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 20(1), 111–125.
https://doi.org/10.21831/pep.v20i1.7524
Rahayu, V. A., Haryani, S., & Dewi, S. H. (2019). KEEFEKTIFAN
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA.
5.
Retnawati, H. (2014). TEORI RESPONS BUTIR DAN PENERAPANNYA : Untuk
Peneliti, Praktisi Pengukuran dan PengujianJ Mahasiswa Pascasarjana.
Yogyakarta: Parama Publishing.
Retnawati, H. (2016). ANALISIS KUANTITATIF INSTRUMEN PENELITIAN
(Panduan Peneliti, Mahasiswa, dan Psikometrian). Yogyakarta: Parama
Publishing.
Rositasari, D., Saridewi, N., & Agung, S. (2014). Pengembangan
Tes Diagnostik Two-Tier Untuk Mendeteksi Miskonsepsi Siswa SMA Pada Topik
Asam-Basa. EDUSAINS, 6(2), 170–176.
Rusilowati, A. (2006). Profil Kesulitan Belajar Fisika Pokok
Kelistrikan Siswa SMA di Kota Semarang. Jurnal Pend. Fisika Indonesia, 4(2),
100–106.
Rusilowati, A. (2015). Pengembangan Tes Diagnostik Sebagai Alat
Evaluasi Kesulitan Belajar Fisika. Prosiding Seminar Nasional Fisika dan
Pendidikan Fisika (SNFPF) Ke-6 2015, 6(1), 1–10.
Sambada, D. (2012). Peranan Kreativitas Siswa Terhadap Kemampuan Memecahkan
Masalah Fisika Dalam Pembelajaran Kontekstual. Jurnal Penelitian Fisika dan
Aplikasinya (JPFA), 2(2), 37.
https://doi.org/10.26740/jpfa.v2n2.p37-47
Tan, C. (2020). Conceptions and Practices of Critical Thinking in
Chinese Schools: An Example from Shanghai. Educational Studies, 56(4),
331–346. https://doi.org/10.1080/00131946.2020.1757446
Triumiana, D. A., & Sudarsono, F. (2017). Pengembangan Instrumen
Tes Diagnostik Mata Pelajaran Fisika Kelas XI SMA Negeri 2 Bantul Semester
Genap 2017/2018. WIDYA DHARMA Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan,
5(2), 10.
Wagensberg, J. (2015). On Quantity and Quality in Human Knowledge. Biological
Theory, 10(3), 273–280. https://doi.org/10.1007/s13752-015-0218-y
Zaleha, Z., Samsudin, A., & Nugraha, M. G. (2017). Pengembangan
Instrumen Tes Diagnostik VCCI Bentuk Four-Tier Test pada Konsep Getaran. Jurnal
Pendidikan Fisika dan Keilmuan (JPFK), 3(1), 36.
https://doi.org/10.25273/jpfk.v3i1.980
Zulfikar, A., Samsudin, A., & Saepuzaman, D. (2017).
Pengembangan Terbatas Tes Diagnostik Force Concept Inventory Berformat
Four-Tier Test. WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika), 2(1), 43–49.
https://doi.org/10.17509/wapfi.v2i1.4903
Lampiran: Cmaps Penelitian dan Evaluasi
Pendidikan


Comments
Post a Comment