Muh. Asriadi AM_Mini Proposal Disertasi UNY 2022

PROPOSAL DISERTASI

                                               

 

HERMENEUTIKA KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN BERPIKIR KREATIF BERBASIS LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (LMS) PADA MATA PELAJARAN FISIKA

 

 

 


 

 

Oleh:

MUH. ASRIADI AM

 

 

 

 

 

 

Proposal Disertasi ini ditulis untuk memenuhi

sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Doktor Pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2022


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Pembelajaran pada abad 21 tidak bisa terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berlangsung sangat pesat (Herbert, Putro, Putra, & Fitriasari, 2019). Mulai dari teknologi, sains, sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Seiring dengan perkembangan tersebut, setiap negara dituntut untuk memiliki sumber daya manusia yang memiliki kecakapan hidup di abad ke-21 termasuk dalam lingkup pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud yaitu keterampilan  berpikir kritis, kreativitas dan inovasi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, belajar belajar, metakognisi, komunikasi, kolaborasi, literasi informasi, dan literasi teknologi informasi (Griffin, McGaw, & Care, 2012). Selaras dengan tujuan perkembangan abad 21 yang signifikan, terdapat tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan keterampilan peserta didik dengan segala macam regulasinya. Berdasarkan UU Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa:

Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan” (Depdiknas, 2003).

Dari undang-undang tersebut pemerintah melalui penyelenggaraan pendidikan yang baik mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki keterampilan hidup agar mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.  

Fisika sebagai mata pelajaran yang dipelajari di tingkat SMA memiliki kompetensi khusus. Faktanya bahwa fisika dianggap oleh sebagian besar peserta didik sebagai salah satu mata pelajaran tersulit di tingkat SMA apalagi yang mengambil program IPA (Arini & Juliadi, 2018). Ini disebabkan karena fisika memiliki karakteristik materi yang mengharuskan penggunaan prosedur ilmiah dalam memahami konsep dasarnya (National Research Council, 2012). Kesulitan belajar fisika yang sering dialami peserta didik dikategorikan menjadi 3 yaitu: (1) kesulitan berhitung yang berhubungan dengan keterampilan peserta didik dalam berhitung khususnya dalam pelajaran fisika, (2) penguasaan konsep yang menuntut peserta didik untuk mengerti akan konsep fisika serta mengaitkan konsep yang satu dengan konsep lain yang saling berhubungan, dan (3) mengartikan lambang dan mengkonversi satuan, disini peserta didik dituntut mengerti akan lambang-lambang fisika. Kesulitan-kesulitan itu sebagian besar baru dapat diketahui diakhir pembelajaran, baik dilihat dari hasil tes formatif ataupun tes sumatif. Salah satu hal mampu mengatasi kesulitan dalam belajar fisika yaitu meningkatkan kemampuan  berpikir kritis setiap peserta didik (Perdana, Riwayani, Jumadi, Rosana, & Soeharto, 2019). Namun karena kemampuan berpikir kritis diperlukan oleh peserta didik dalam proses pembelajaran. Sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui seberapa besar kemampuan berpikir kritis yang dimiliki peserta didik pada mata pelajaran fisika. Tes yang diperlukan disebut sebagai tes diagnostik.

Proses pembelajaran fisika untuk Kurikulum 2013 meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Khairani, S., Asrizal., & Harman, A., 2017). Penguasaan tiga ranah tersebut lebih menekankan pada keterampilan berpikir peserta didik (Kemendikbud, 2014). Hasil akhir dari proses pembelajaran tersebut nantinya peserta didik dapat memiliki kecakapan yang layak. Proses pembelajaran yang baik tentunya akan meningkatkan kualitas sistem pendidikan Indonesia. Pembelajaran fisika di sekolah dapat mempengaruhi keterampilan peserta didik di era revolusi industri 4.0 pada abad ke 21 ini. Erlinda (2016) mengungkapkan bahwa pembelajaran fisika di sekolah dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir. Satu diantara keterampilan berpikir yang dapat ditingkatkan adalah keterampilan critical thinking (berpikir kritis). Hal ini searah dengan kurikulum 2013, dimana peserta didik dituntut untuk memiliki keterampilan critical thinking (Nadapdap & Istiyono, 2017). Keterampilan critical thinking dapat menjadi indikator keberhasilan pembelajaran fisika dan tolak ukur pemahaman konsep peserta didik (Maries & Singh, 2018). Istiyono (2018) mengungkapkan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yang dilakukan di kelas perlu dilakukan penilaian. Penilaian dapat memberikan gambaran mengenai pengetahuan dan konsep siswa (Kloser, 2016). Melalui penilaian dapat mengetahui keterampilan critical thinking peserta didik, sehingga pendidik dapat melakukan tindak lanjut terhadap keterampilan tersebut.  Penilaian pembelajaran fisika pada kurikulum 2013 mencakup  tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (Kemendikbud, 2014). Frederiksen dalam Halim, Yusrizal, Susanna, dan Tarmizi (2016) mengungkapkan penilaian critical thinking telah mencakup ranah psikomotorik dan kognitif. Namun, dalam pelaksanaannya penilaian yang digunakan pendidik di sekolah masih menggunakan tingkat ranah kognitif yang rendah.  Bentuk instrumen penilaian digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam critical thinking berupa instrumen tes (Phonapichata, Wongwanicha, & Sujivaa, 2016). Namun, penyusunan instrumen tes yang dikembangkan di sekolah belum memenuhi syarat pengembangan instrumen tes yang baik (Sinaga, 2016). Hal ini dikarenakan, pengembangan instrumen tes tersebut belum dianalisis dengan benar kelayakannya. Oleh karena itu, perlu dikembangkan instrumen tes yang layak digunakan.

Keterampilan berpikir kreatif (creative thinking skills) juga sangat diperlukan pada abad ke-21 ini karena akan sangat membantu dalam proses pemecahan masalah. Penelitian Kuspriyanto (2013) menemukan bahwa keterampilan fleksibilitas salah satu dari komponen berpikir kreatif bagi seorang fisikawan sangat penting untuk memecahkan masalah yang menciptakan suatu keberhasilan. Nurmasari, N., Kusmayadi, A, T., dan Riyadi. (2014) menyatakan keterampilan berpikir kreatif diperlukan dalam kehidupan sehari – hari untuk menghadapi era informasi dengan persaingan ketat. Individu dengan keterampilan berpikir kreatif lebih mudah dalam menghadapi masalah. Oleh karena itu, berpikir kreatif dalam fisika perlu diasah agar dapat mengembangkan sebuah penemuan baru pada bidang fisika.  Humairah (2019) menemukan creative thinking skills bidang matematis masih sangat rendah sebanyak 38%. Keterampilan peserta didik rendah dikarenakan proses pembelajaran kurang dirangsang dalam aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi. Peserta didik juga kurang kreatif saat mengerjakan soal karena masih mengikuti cara guru dalam mengerjakan soal. Rodiyana (2015) pada penelitiannya juga menemukan terkait keterampilan berpikir kreatif pada peserta didik belum didukung oleh pendidikan di Indonesia. Pemikiran kreatif peserta didik kurang berkembang disebabkan oleh kurikulum yang difokuskan pada penyelesaian materi daripada metode pengajaran (Hasanah, M., dan Surya, E. , 2017).  Istiyono (2018) menyatakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran di kelas perlu dilakukan suatu penilaian. (Matthew, 2016) juga menyatakan dengan hasil penilaian guru dapat mengetahui tingkat pemikiran peserta didik sesuai dengan tujuan dari pembelajaran dan untuk mengidentifikasi creative thinking skills peserta didik diperlukan adanya instrumen tes.  Yuyun Dwi Haryanti & Dudu Saputra (2019) menyatakan bahwa guru dapat melakukan pengembangan berpikir kreatif dengan memberi persoalan penyelesaian masalah. Penilaian keterampilan berpikir kreatif yang digunakan lebih bersifat objektif. Istiyono, et all. (2018) menyatakan bahwa untuk, mengukur>creative thinking skills dari keterampilan sedang sampai tinggi dapat menggunakan tipe soal berbentuk pilihan ganda. Tes pilihan ganda memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan lebih bersifat objektif.   Istiyono, et al. (2018) menyebutkan bahwa sejauh ini guru belum menggunakan penilaian yang-dapat mengidentifikasi>creative?thinking?skills. Tes yang digunakan oleh guru sifatnya hanya mengingat dan menghafal saja, padahal penilaian berpikir kreatif sudah lebih dari sekedar mengingat dan menghafal. Perbedaan cara penilaian dapat mempengaruhi hasil penilaian peserta didik. Penilaian yang tepat nantinya dapat membuat kelas menjadi kompetitif.

Pemanfaatan teknologi Industri 4.0 dalam pembelajaran fisika dapat dilakukan dengan menerapkan Learning Management System (LMS) atau sistem manajemen pembelajaran. LMS merupakan perangkat lunak berbasis jaringan internet yang dirancang untuk mengelola program pembelajaran elektronik (e-learning). Salah satu LMS yang terkenal adalah Moodle (singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment). Moodle memiliki beberapa keunggulan. Pertama, fiturnya lengkap. Moodle dapat digunakan untuk komunikasi (chatting, messaging, atau forum), pembuatan dan pengadministrasian materi pembelajaran, pelacakan perkembangan proses pembelajaran (data tracking), dan keterampilan fungsinya yang dapat diperluas (extensibility plugin). Kedua, kemudahan penggunaan. Hal ini disebabkan karena Moodle dapat diatur secara fleksibel sesuai dengan kebijakan dan kebutuhan proses pembelajaran di masing-masing institusi penggunanya. Keunggulan fitur, kemudahan penggunaan, dan sifat LMS yang open source harusnya menjadikan alasan untuk meninggalkan model pengelolaan proses pembelajaran tradisional. Guru-guru perlu didorong untuk mengembangkan materi dan merancang proses pembelajaran LMS. Dengan LMS penyajian bahan ajar bisa menjadi lebih menarik karena memanfaatkan multimedia. Pengajaran tidak perlu tatap muka, atau jumlah tatap muka dapat dikurangi, karena peserta didik dapat belajar kapanpun dan di manapun. LMS mempunyai fitur kuis yang dapat digunakan guru untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa. Evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu program pendidikan (Arikunto, 2003). Evaluasi ada proses pengukuran dan penilaian hasil belajar. Evaluasi berarti memerlukan alat ukur, yang dalam proses belajar mengajar sering dinamakan sebagai perangkat penilaian atau penugasan. Penilaian hasil belajar sebaiknya dilakukan selama proses belajar mengajar dengan mengamati aspek aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Penilaian yang demikian disebut sebagai penilaian kelas. Penilaian kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian belajar yang terdapat dalam kurikulum (Surapranata dan Hatta 2006: 4). Di era Industri 4.0 salah satu perubahan cara penilaian hasil belajar adalah dengan digunakannya aplikasi penilaian berbasis internet (Magno, 2019). Kelebihan aplikasi penilaian berbasis internet adalah keterampilannya untuk menyajikan tes dengan tingkat kesulitan soal yang sesuai dengan keterampilan peserta tes. Tes yang demikian disebut dengan tes adaptif. Butir soal dalam tes adaptif diambil dari kumpulan soal (bank soal) yang telah dikategorikan berdasarkan konten dan tingkat kesulitan (Magis & von Davier, 2017). Tes adaptif dapat menentukan keterampilan peserta tes dengan akurat meskipun jumlah soal dan waktu pengerjaan berbeda-beda antar peserta tes. Selain itu, sebagai tes berbasis komputer, tes adaptif dapat menunjukkan nilai akhir peserta tes segera setelah tes selesai. Sebagai tes berbasis jaringan, tes adaptif dapat menyajikan hasil seluruh peserta tes kepada guru atau administrator sistem. Moodle yang diinstal modul Adaptive Quiz dapat digunakan untuk menyelenggarakan penilaian adaptif. Sayangnya keterampilan LMS ini belum digunakan dalam pembelajaran khusus pada mata pelajaran fisika. Oleh karena itu perlu dirintis sebuah model asesmen diagnostik yang didasari pada keterampilan abad 21 dan penilaian adaptif pada pembelajaran fisika.

 

B.       Identifikasi Masalah

            Berdasarkan uraian latar belakang maka identifikasi masalah pada penelitian ini antara lain:

1.      Tingkat critical thinking skills dan creative?thinking skills peserta-didik masih-rendah yang berlawanan dengan tuntutan abad ke-21.

2.      Proses pembelajaran fisika kurang dirangsang dalam aspek keterampilan berpikir tingkat tinggi dan tuntutan keterampilan abad ke-21 yang harus dimiliki peserta didik.

3.      Penggunaan butir soal masih menggunakan paper and pencils (PAP)

4.      Keterampilan LMS ini belum digunakan dalam pembelajaran khusus pada mata pelajaran fisika

5.      Penggunaan asesmen diagnostik  untuk mengidentifikasi keterampilan berpikir kritis dan kreatif belum banyak tersedia

6.      Penggunaan asesmen diagnostik  yang teruji belum banyak tersedia

C.      Pembatasan Masalah

 Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas maka peneliti berfokus pada pengembangan model asesmen diagnostik. Masalah dibatasi pada diagnosa keterampilan critical & creative thinking-skills peserta-didik masih-rendah yang berlawanan dengan tuntutan abad ke-21, penggunaan tes diagnostik three-tier untuk mengidentifikasi keterampilan berpikir kritis dan kreatif belum banyak tersedia, dan penggunaan tes diagnostik berbasis komputer belum banyak tersedia. Oleh karena itu, perlu dikembangkan three tier diagnostic test menggunakan Moodle untuk keterampilan abad ke-21 yaitu critical & creative thinking-skills pada pembelajaran fisika SMA.

D.      Rumusan Masalah

 Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijabarkan diatas, maka rumusan masalah yang aksan dijawab dalam penelitian pengembangan ini adalah:

1.   Bagaimana konstruksi model asesmen diagnostik yang dikembangkan untuk mendiagnosis kelemahan keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills) dan keterampilan berpikir kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam pembelajaran Fisika SMA dengan bantuan Moodle?

2.     Bagaimana kualitas instrumen diagnostik test yang dikembangkan?

3.   Bagaimana hermeneutika kemampuan berpikir kritis (critical thinking skills) dan berpikir kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam pembelajaran Fisika SMA?

4.   Bagaimana keefektifan model penilaian diagnostik berbasis learning management system (LMS) pada mata pelajaran fisika?

E.       Tujuan Pengembangan

Tujuan pengembangan penelitian yaitu:

1. Mengembangkan konstruksi model asesmen diagnostik yang dikembangkan untuk mendiagnosis kelemahan keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills) dan keterampilan berpikir kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam pembelajaran Fisika SMA dengan bantuan Moodle.

2.      Menganalisis kualitas instrumen diagnostik test yang dikembangkan.

3.  Mengetahui hermeneutika kemampuan berpikir kritis (critical thinking skills) dan berpikir kreatif (creative thinking skills) peserta didik dalam pembelajaran Fisika SMA.

4. Menganalisis keefektifan model asesmen diagnostik berbasis learning management system (LMS) pada mata pelajaran fisika


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.      Kajian Teori

1.      Model Asesmen

a.      Konsep Evaluasi, Pengukuran, dan Penilaian

Evaluasi dalam bidang pendidikan, memiliki tiga istilah yang sering digunakan, yaitu pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Pengukuran atau dalam bahasa Inggrisnya measurement adalah kegiatan mengukur, yakni membandingkan sesuatu dengan kriteria/ukuran tertentu. Dapat juga dikatakan, pengukuran adalah proses pemberian angka kepada suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh orang atau objek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas (Allen & Yen, 1979). Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa pengukuran adalah penetapan angka dengan cara yang sistematik untuk menunjukkan keadaan individu.

Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian dikenal dengan kata assessment yang diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Menurut Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian pendidikan, penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik (Kemendikbud RI, 2016). Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai peserta didik dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar peserta didik (Direktur Tenaga Kependidikan, 2008). Penilaian adalah suatu tindakan untuk memberikan interpretasi terhadap hasil pengukuran, dengan menggunakan norma tertentu, untuk mengetahui tinggi/rendahnya atau baik buruknya aspek tertentu. Penilaian mencakup semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok. Proses asesmen meliputi pengumpulan bukti-bukti tentang pencapaian belajar peserta didik. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa penilaian adalah pengumpulan informasi untuk membandingkan antara apa yang dicapai dengan kriteria yang harus dicapai peserta didik.

2.      Hermeneutika

Penelusuran kata modern dari “hermeneutika” dan “hermeneutis” mengasumsikan proses “membawa sesuatu untuk dipahami”, proses ini melibatkan bahasa, karena bahasa dianggap sebagai mediasi paling sempurna dalam sebuah proses (Palmer, 2016). Proses membawa, menerjemahkan pesan agar dipahami yang menjadi tugas hermes ini terkandung dalam tiga bentuk makna dasar dari “hermeneunein” dan “hermeneia” yang dalam penggunaan aslinya yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata, “to say”, (2) menjelaskan, “to explain” dan (3) menerjemahkan “to translate” ketiga makna itu bisa diwakilkan dalam bentuk kata kerja bahasa inggris “to interpret”. Hermeneutika sebagai interpretasi bertugas membuat sesuatu yang kabur, jauh dan gelap maknanya menjadi sesuatu yag jelas, dekat dan dapat dipahami (Terry, 1885).

3.      Tes Diagnostik

a.      Pengertian Tes Diagnostik

Tes adalah bagian dari evaluasi, pengukuran, dan penilaian. Tes merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam evaluasi, terdiri dari sejumlah pertanyaan atau butir-butir soal yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi melalui respon peserta tes (Diputera, 2018).. Hasil tes kemudian dapat digunakan untuk membuat keputusan tentang seorang murid (memberikan nilai, merekomendasikan untuk program lanjutan), instruksi (ulangi, ulas, lanjutkan), kurikulum (mengganti, merevisi), atau faktor pendidikan lainnya (Kubiszyn & Borich, 2013). Tes dapat berupa sejumlah pertanyaan atau permintaan melakukan sesuatu untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, intelegensi, bakat, atau keterampilan lain yang dimiliki oleh seseorang. Istilah diagnostik dapat diuraikan dari asal katanya yaitu diagnosis yang berarti mengidentifikasi penyakit dari gejala-gejala yang ditimbulkannya.  Pemeriksaan awal seperti ini disebut mendiagnosis. Demikian halnya seorang guru terhadap peserta didiknya. Sebelum dapat memberikan bantuan dengan tepat, guru harus memberikan tes diagnostik (Depdiknas RI, 2007). Tes diagnostik merupakan tes yang dapat digunakan untuk mengetahui secara tepat dan memastikan kelemahan dan kekuatan peserta didik pada pelajaran tertentu (Zaleha, Samsudin, & Nugraha, 2017). Hasil tes diagnostik dapat digunakan untuk melakukan intervensi yang efektif kepada peserta didik secara individual atau klasikal, dalam upaya mengevaluasi proses pembelajaran. Tes diagnostik tidak hanya memberikan informasi berupa angka sebagai indikator keterampilan peserta didik, namun juga mendeskripsikan penguasaan peserta didik pada sub keterampilan tertentu (Hadi, Ismara, & Tanumihardja, 2015). Tes diagnostik akan sangat bermanfaat untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik dan merupakan langkah awal untuk perbaikan proses belajar mengajar (Triumiana & Sudarsono, 2017). Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan bahwa tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan tindak lanjut berupa perlakuan yang tepat dan sesuai dengan kelemahan yang dimiliki peserta didik.

4.   Learning Management System (LMS)

Learning management system (LMS) adalah aplikasi perangkat lunak untuk kegiatan dalam jaringan, program pembelajaran elektronik (e-learning program), dan isi pelatihan (Bradley, 2020). Sebuah LMS yang kuat harus bisa melakukan hal berikut:

a)      Menggunakan layanan self-service dan self-guided

b)      Mengumpulkan dan menyampaikan konten pembelajaran dengan cepat

c)      Mengkonsolidasikan inisiatif pelatihan pada platform berbasis web scalable

d)      Mendukung portabilitas dan standar

e)      Personalisasi isi dan memungkinkan penggunaan kembali pengetahuan. LMS merupakan sistem untuk mengelola catatan pelatihan dan pendidikan, perangkat lunaknya untuk mendistribusikan program melalui internet dengan fitur untuk kolaborasi secara online. Dimensi untuk sistem manajemen meliputi students self-service (misalnya, registrasi mandiri yang dipimpin instruktur pelatihan), alur kerja pelatihan (misalnya, pemberitahuan pengguna, persetujuan manajer, daftar tunggu manajemen), penyediaan pembelajaran online (misalnya, pelatihan berbasis komputer, membaca & memahami), penilaian online, manajemen pendidikan profesional berkelanjutan, pembelajaran kolaboratif (misalnya, berbagi aplikasi, diskusi), dan pelatihan manajemen sumber daya (misalnya, instruktur, fasilitas, peralatan) (Herbert dkk., 2019). LMS juga digunakan oleh institusi pendidikan untuk meningkatkan dan mendukung program pengajaran di kelas dan menawarkan pelatihan untuk populasi yang lebih besar. Ada banyak produk LMS. Beberapa LMS yang berlisensi open source adalah Moodle, Claroline, Dokeos, Docebo, ATutor, Chamilo, OLAT, dan masih banyak lagi.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasar kajian teori, kajian penelitian yang relevan dan kerangka pikir, maka pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1.      Bagaimana model asesmen diagnostik berbasis LMS untuk keterampilan abad 21 pada mata pelajaran fisika?

2.      Bagaimana konstruk instrumen keterampilan berpikir kritis pada mata pelajaran fisika?

3.      Bagaimana konstruk instrumen keterampilan berpikir kreatif pada mata pelajaran fisika?

4.      Bagaimana uji kecocokan model asesmen diagnostik berbasis LMS untuk keterampilan abad 21 pada mata pelajaran fisika?

5.      Bagaimana hasil diagnosa keterampilan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran fisika

Bagaimana profil keterampilan berpikir kreatif pada mata pelajaran fisika


BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.      Model Pengembangan

            Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan atau biasa disebut dengan Research and Development (R&D) yaitu suatu metode penelitian yang mengembangkan suatu produk sesuai kriteria yang telah ditetapkan dan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian pengembangan merupakan suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada dan produk tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Produk yang dihasilkan berupa model asesmen diagnostik. Model tes ini diteliti kualitas dari segi validitas dan reliabilitasnya oleh para ahli melalui expert judgment dan hasil tes dianalisis menggunakan teori respon butir.

B.       Prosedur Pengembangan

 Berdasar kajian teoritik model penelitian pengembangan yang sudah disajikan, penelitian ini menggunakan modifikasi model penelitian pengembangan Borg & Gall dan Plomp. Dari sepuluh langkah dari model Borg & Gall diringkas menjadi lima tahap, seperti yang dikembangkan dalam model Plomp. Tahap-tahap tersebut adalah: (1) melakukan studi pendahuluan, (2) mengembangkan design, (3) mengembangkan dan melakukan validasi produk, (4) uji coba lapangan, (5) diseminasi/implementasi.

A.      Desain Uji Coba Produk

1.         Desain Uji Coba

langkah-langkah pengembangan model asesmen diagnostik diuraikan sebagai berikut.

a.      Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan dalam penelitian ini meliputi beberapa kegiatan, yaitu: (1) kajian literatur, (2) mengkaji hasil-hasil penelitian, dan (3) prasurvei. Pada kegiatan kajian literatur, kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan dan mendokumentasikan bahan-bahan pendukung penelitian, yang berkaitan dengan pengembangan penilaian formatif, konsep berpikir kritis, teori-teori, konsep dan dalil-dalil yang berkaitan dengan penilaian diagnostik dalam berpikir kritis dan berpikir kreatif pada pembelajaran fisika. Dari kegiatan kajian literatur ini diharapkan diperoleh model asesmen diagnostik yang dapat mengukur keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif pada pembelajaran fisika.

Kegiatan berikutnya adalah melakukan kajian hasil-hasil penelitian sehingga diperoleh wawasan penelitian yang berhubungan dengan teori, prosedur, langkah-langkah dan cara-cara yang digunakan dalam penelitian pengembangan. Melalui kegiatan ini diharapkan diperoleh kajian empirik tentang implementasi penilaian formatif keterampilan berpikir kritis. Kegiatan selanjutnya dalam studi pendahuluan adalah kegiatan pra survei. Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi atau data yang dibutuhkan yang berhubungan dengan siswa, proses pembelajaran, dan penilaian pembelajaran matematika, serta latar belakang dan pandangan guru fisika tentang pelaksanaan penilaian pembelajaran fisika di MAN. Pada kegiatan pra survei ini melibatkan 6 guru fisika dari 3 sekolah yang terdiri atas 2 sekolah negeri dan 1 sekolah swasta

b.      Mengembangkan Desain Penelitian

1)     Perancangan Awal

Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah mengembangkan draft dan rancangan uji coba awal prototipe, sehingga diperoleh umpan balik dari kegiatan uji coba. Draf awal dikembangkan dengan melibatkan para ahli dalam bidang. penelitian pengembangan. Perancangan diawali dengan pengembangan konstruk asesmen diagnostik untuk keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif pada materi pembelajaran fisika, jenis dan bentuk instrumen, diakhiri pengembangan produk. Untuk mengukur keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran matematika, dikembangkan instrumen berbentuk tes esai terbuka (open ended), sedangkan disposisi keterampilan berpikir kritis dikembangkan berbentuk angket dengan skala likert Langkah berikutnya adalah penyusunan kisi-kisi. Kegiatan ini bertujuan agar butir-butir tes yang akan dibuat memenuhi validitas isi. Kisi-kisi tes disajikan dalam bentuk matriks yang memuat komponen-komponen seperti: materi yang diujikan, aspek tingkah laku yang diukur, dan tingkatan perkembangan kognitif yang yang diamati atau diukur. Aspek kognitif yang akan diukur dalam penelitian ini ditetapkan berdasarkan definisi operasional keterampilan berpikir kritis siswa SMA pada mata pelajaran fisika. Aspek kognitif tersebut terdiri atas keterampilan interpretasi, keterampilan analisis, keterampilan evaluasi, keterampilan inferensi, dan keterampilan eksplanasi. Aspek isi materi ditetapkan berdasarkan hasil kajian tentang materi matematika yang mendukung pencapaian standar kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam Standar Isi (SI) mata pelajaran matematika pada jenjang SMA kelas XI. Berdasarkan hasil uji dokumentasi diperoleh lima materi yang diukur dengan instrumen yang dikembangkan, yaitu: (1)GLB dan GLBB, (2) Gerak Melingkar, (3) Gerak Parabola, (4) Dinamika Partikel dan Hukum Newton (5) Usaha dan Energi.

2)     Validasi Produk

a)      Validasi Ahli

Kegiatan validasi oleh ahli bertujuan untuk menilai kelayakan dasar-dasar teori yang digunakan, mengembangkan instrumen model penilaian produk, dan mengungkapkan informasi terkait keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran matematika SMA. Validasi oleh para ahli dalam penelitian ini menggunakan teknik delphi, melibatkan ahli dibidang pendidikan fisika, psikologi dan psikometri. Hasil masukan setiap ahli selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan instrumen.

b)      Validitas Empiris

Validitas empiris instrumen penelitian direncanakan diujicobakan terhadap beberapa siswa kelas XI dari beberapa SMA baik negeri dan swasta di kabupaten Sukoharjo. Hasil uji coba kemudian dianalisis dengan menggunakan teori respon butir satu parameter. Sebelum dilakukan analisis menggunakan teori respon butir, terlebih dahulu dilakukan uji unidimensional dan CFA menggunakan software JASP.

c.       Mengembangkan dan Validasi Produk

Pada tahap ini dilakukan uji keterbacaan terhadap beberapa guru matematika dan dilanjutkan uji coba awal. Selama uji coba berlangsung, peneliti melakukan monitoring dan wawancara terhadap guru dan siswa untuk memperoleh data sebagai bahan untuk melakukan revisi, refleksi dan bahan uji coba berikutnya. Rancangan produk mencakup tujuan penggunaan produk, pengguna, deskripsi komponen-komponen dan penggunaan produk, sampai diperoleh draf model. Draf model terdiri atas perancangan model dan perencanaan uji coba.

d.      Melakukan Uji Coba

Uji coba lapangan bertujuan untuk memperoleh bukti-bukti empirik tentang kelayakan produk yang sedang dikembangkan sesuai dengan performa objektif, menentukan berhasil tidaknya produk dan untuk mengumpulkan informasi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas produk. Kegiatan ini berupa siklus yang dapat dilakukan secara berulang-ulang sampai revisi produk sesuai dengan performa objektif. Langkah selanjutnya adalah uji coba lapangan operasional. Tujuan kegiatan ini untuk menentukan apakah produk yang dikembangkan benar-benar siap untuk digunakan.

e.    Desiminasi/Implementasi

Diseminasi adalah proses sosialisasi terhadap pengguna produk penelitian pengembangan. Implementasi adalah proses penerapan produk penelitian pengembangan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Bentuk kegiatan desiminasi berupa seminar-seminar yang melibatkan para praktisi dan birokrasi pendidikan.

2.         Subjek Uji Coba

Subjek penelitian dalam penelitian pengembangan ini adalah peserta didik Kelas XI MAN di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dengan menggunakan Stratified Random Sampling sebagai teknik sampingnya. Stratified random sampling adalah proses dimana subkelompok atau strata tertentu dipilih sebagai sampel proporsi yang sama dengan yang ada dalam populasi (Fraenkel & Wallen, 2009). Jumlah subyek coba pada penelitian ini direncanakan sebanyak 200 peserta dan 10 guru pengampu pelajaran fisika, terbagi atas 20 siswa dan 1 guru pada uji coba keterbacaan, 80 siswa dan 4 guru pada uji coba terbatas dan 100 siswa dan 5 guru pada ujicoba diperluas.

 

3.         Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

a.      Teknik Pengumpulan Data

1)      Metode Observasi

Dalam penelitian ini, pelaksanaan observasi dilakukan sebelum hingga implementasi produk yang dikembangkan. Observasi pertama kali dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata sekolah yang akan dilakukan penelitian. Hasil pelaksanaan observasi digunakan untuk memperoleh data-data pendukung yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam mengembangkan produk. Observasi kedua dilakukan oleh observer guna menilai keterlaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan ketika implementasi produk yang dikembangkan.

2)      Forum Group Discussion

Instrumen penilaian yang telah dikembangkan dibahas dalam forum diskusi yang terdiri dari ahli diantaranya Dosen, Guru dan dan Ahli lainya. Setiap ahli diminta  mengemukakan kritik dan saran untuk perbaikan instrumen

3)      Metode Tes

Pelaksanaan tes bertujuan menganalisis dan mendiagnosis keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif peserta didik pada mata pelajaran fisika. Dalam penelitian ini tes dilakukan satu kali. Tes yang diberikan pada saat pembelajaran dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan  berpikir kritis peserta didik dalam kegiatan pembelajaran fisika dan menganalisis bagian mana dari kegiatan pembelajaran yang menimbulkan masalah bagi peserta didik.

b.      Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.

1)      Lembar Validasi

Lembar validasi ahli digunakan untuk memperoleh data tentang kevalidan model penilaian yang dikembangkan. Data yang dikumpulkan merupakan data tentang kevalidan seluruh instrumen yang digunakan dalam penelitian ini.

2)      Modul Asesmen Diagnostik Keterampilan Berpikir Kritis

Modul asesmen diagnostik digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan tes dari awal sampai pada penentuan solusi permasalahan yang dihadapi peserta didik.

 

3)      Tes Diagnostik

Tes diagnostik yang di maksud adalah tes yang diberikan dalam proses pembelajaran. Tes ini diberikan setelah peserta didik diberikan setelah pemberian tes formatif oleh guru.

4)      Rubrik Penskoran dan Penafsiran Hasil Tes

Rubrik penskoran dan penafsiran hasil tes adalah pedoman yang digunakan untuk memberikan skor dan penafsiran hasil tes diagnostik keterampilan berpikir kritis pada mata pelajaran fisika

4.         Teknik Analisis Data

a.      Analisis Data Kevalidan

Data hasil penelitian yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan beberapa cara sebagai berikut:

1)      Analisis Validitas Isi

Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgement. Validitas isi mengukur sejauh mana elemen-elemen dalam suatu instrumen ukur benar-benar relevan. Data hasil penilaian oleh validator ahli dan praktisi dari lembar validasi instrumen penilaian dianalisis untuk mengetahui validitas isi dari model asesmen diagnostik yang dikembangkan. Validitas isi merupakan telaah yang berkaitan dengan kesesuaian item soal terhadap indikator. Ahli yang digunakan merupakan ahli pengukuran dan ahli materi, penilaian yang dilakukan dalam isi instrumen dengan memberikan skor nilai 1 sampai 5 dengan kategori tidak relevan, kurang relevan, relevan, dan sangat relevan. Selanjutnya, skor dari validator/ ahli instrumen yang didapatkan. Pada penelitian ini, hasil validitas isi dari para ahli melalui expert judgement dianalisis menggunakan, formula Aiken

1)      Analisis Validitas Konstruk

Validitas konstruk menggunakan Exploratory Factor Analysis dan Confirmatory Factor Analysis. Kriteria yang dijadikan dasar untuk melihat valid tidaknya instrumen adalah butir yang memiliki muatan faktor> 0,5, adalah butir yang akan dipertahankan sebagai butir yang valid. Memiliki muatan faktor di atas 0,30, dipertimbangkan untuk dilakukan analisis). Apabila butir memiliki lebih dari satu muatan faktor di atas 0,30 yang mendekati sama, maka butir tersebut digugurkan karena tidak berdimensi tunggal (Hair, Black, Babin, & Anderson, 2009).

2)      Analisis Reliabilitas

Perhitungan reliabilitas instrumen menggunakan Alpha dari Cronbach, Rumus Alpha digunakan untuk mengestimasi reliabilitas instrumen yang skornya bukan hanya 1 dan 0, namun juga skala politomus, misalnya angket (skala likert 1-2-3-4-5) atau soal bentuk uraian

3) Analisis Butir Soal

Analisis kualitas butir soal dianalisis menggunakan Teori Respon Butir (TRB)/Item Response Teori (IRT). Analisis butir soal model tes diagnostik keterampilan berpikir kritis yang berbentuk pilihan ganda two tier (2 tingkat) akan dianalisis menggunakan teori respon butir Parameter (3PL). Model tiga parameter logistik (3PL) memungkinkan ICC untuk memiliki asymptotes non-nol (zero) lebih rendah. Model ini lebih cocok untuk data respon item dimana peserta tes pada tingkat kemahiran yang sangat rendah mungkin menjawab item dengan benar secara kebetulan yang dapat terjadi pada item pilihan ganda (Diputera, 2018).


DAFTAR PUSTAKA

Abidin, A. Z., Istiyono, E., Fadilah, N., & Dwandaru, W. S. B. (2019). A computerized adaptive test for measuring the physics critical thinking skills in high school students. International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE), 8(3), 376–383. https://doi.org/10.11591/ijere.v8i3.19642

Alkhateeb, M. A., & Abdalla, R. A. (2021). Factors Influencing Student Satisfaction Towards Using Learning Management System Moodle. International Journal of Information and Communication Technology Education, 17(1), 138–153. https://doi.org/10.4018/IJICTE.2021010109

Allen, M. J., & Yen, W. M. (1979). Introduction to Measurement Theory. California: Wadsworth.Inc.

Arief, M. K., Handayani, L., & Dwijananti, P. (2012). Identifikasi Kesulitan Belajar Fisika Pada Siswa RSBI: Studi Kasus di Rsmabi Se Kota Semarang. Unnes Physics Journal, 1(2), 5–10. https://doi.org/10.15294/upej.v1i2.1354

Arini, W., & Juliadi, F. (2018). Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Pada Mata Pelajaran Fisika untuk Pokok Bahasan Vektor Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Berkala Fisika Indonesia, 10(1), 1–11. http://dx.doi.org/10.12928/bfi-jifpa.v10i1.9485

Aybek, E. C., & Demirtasli, R. N. (2017). Computerized Adaptive Test (CAT) Applications and Item Response Theory Models for Polytomous Items. INTERNATIONAL JOURNAL OF RESEARCH IN EDUCATION AND SCIENCE, 3(2), 475–475. https://doi.org/10.21890/ijres.327907

Bandyopadhyay, S., & Szostek, J. (2019). Thinking critically about critical thinking: Assessing critical thinking of business students using multiple measures. Journal of Education for Business, 94(4), 259–270. https://doi.org/10.1080/08832323.2018.1524355

Bowell, T., & Kemp, G. (2011). Critical Thinking: A Concise Guide. 286.

Bradley, V. M. (2020). Learning Management System (LMS) Use with Online Instruction. International Journal of Technology in Education, 4(1), 68–92. https://doi.org/10.46328/ijte.36

Bunawan, W., Setiawan, A., Rusli, A., & Nahadi. (2015). Penilaian Pemahaman Representasi Grafik Materi Optika Geometri Menggunakan Tes Diagnostik. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 2(2), 257–267. https://doi.org/10.21831/cp.v2i2.4830

Caleon, I. S., & Subramaniam, R. (2010). Do Students Know What They Know and What They Don’t Know? Using a Four-Tier Diagnostic Test to Assess the Nature of Students’ Alternative Conceptions. Research in Science Education, 40(3), 313–337. https://doi.org/10.1007/s11165-009-9122-4

Choe, E. M., & Fu, Y. (2018). Computerized Adaptive and Multistage Testing with R: Using Packages catR and mstR. Measurement: Interdisciplinary Research and Perspectives, 16(4), 264–267. https://doi.org/10.1080/15366367.2018.1520560

Copriady, J., Iswandari, S. N., Noer, A. M., & Albeta, S. W. (2020). Pengembangan E-Modul Berbasis Moodle Pada Materi Hidrokarbon. EDUSAINS, 12(1), 81–88. https://doi.org/10.15408/es.v12i1.11503

Cronbach, L. J. (1951). Coefficient Alpha and The Internal Structure of Tests. Psychometrika, 16(3), 297–334. https://doi.org/10.1007/BF02310555

de Glopper, K. (2002). Fisher, Alec and Scriven, Michael (1997). Critical Thinking. Its Definition and Assessment. Argumentation, 16(2), 247–251. https://doi.org/10.1023/A:1015597228975

Depdiknas. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Depdiknas RI. (2007). Tes Diagnostik. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, 24.

Diputera, A. M. (2018). ANALISIS IRT MENGGUNAKAN WINGEN 3: Teori Respon Butir & Aplikasi. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia.

Direktur Tenaga Kependidikan. (2008). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.

Dwyer, C. P., & Walsh, A. (2020). An exploratory quantitative case study of critical thinking development through adult distance learning. Educational Technology Research and Development, 68(1), 17–35. https://doi.org/10.1007/s11423-019-09659-2

Ennis, R. H. (1958). An Appraisal of the Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal. The Journal of Educational Research, 52(4), 155–158. https://doi.org/10.1080/00220671.1958.10882558

Ennis, R. H. (1993). Critical thinking assessment. Theory Into Practice, 32(3), 179–186. https://doi.org/10.1080/00405849309543594

Ennis, R. H. (2011). The Nature of Critical Thinking: An Outline of Critical Thinking Dispositions and Abilities. Inquiry: Critical Thinking Across the Disciplines, 26(2), 4–4. https://doi.org/10.5840/inquiryctnews201126214

Epstein, R. L., & Kernberger, C. (2006). Critical Thinking (3rd ed). Australia ; Belmont, CA: Thomson/Wadsworth.

Febliza, A., & Okatariani, O. (2020). The Development of Online Learning Media by Using Moodle for General Chemistry Subject. Journal of Educational Science and Technology (EST), 6(1), 40. https://doi.org/10.26858/est.v6i1.12339

Fraenkel, J. R., & Wallen, N. E. (2009). How to design and evaluate research in education (7th ed). New York, NY: McGraw-Hill.

Griffin, P., McGaw, B., & Care, E. (Ed.). (2012). Assessment and Teaching of 21st Century Skills. Dordrecht: Springer Netherlands. https://doi.org/10.1007/978-94-007-2324-5

Grimard Wilson, D., & Wagner, E. E. (1981). The Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal as a Predictor of Performance in a Critical Thinking Course. Educational and Psychological Measurement, 41(4), 1319–1322. https://doi.org/10.1177/001316448104100443

Hadi, S., Ismara, K. I., & Tanumihardja, E. (2015). Pengembangan Sistem Tes Diagnostik Kesulitan Belajar Kompetensi Dasar Kejuruan Siswa SMK. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 19(2), 168–175. https://doi.org/10.21831/pep.v19i2.5577

Hair, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., & Anderson, R. E. (2009). Multivariate Data Analysis (7th Edition) (7 th). New Jersey, USA: Prentice Hall.

Hambleton, R. K., & Swaminathan, H. (1985). Item Response Theory. Dordrecht: Springer Netherlands. https://doi.org/10.1007/978-94-017-1988-9

Hambleton, R. K., Swaminathan, H., & Rogers, H. J. (1991). Fundamentals of item response theory. Newbury Park, Calif: Sage Publications.

Hardyanto, R. H., & Surjono, H. D. (2016). Pengembangan dan Implementasi E-Learning Menggunakan Moodle dan Vicon Untuk Pelajaran Pemrograman Web di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 6(1), 43–53. https://doi.org/10.21831/jpv.v6i1.6675

Hartini, T. I., Kusdiwelirawan, A., & Fitriana, I. (2014). Pengaruh Berpikir Kreatif dengan Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap Prestasi Belajar Fisika Siswa Dengan Menggunakan Tes Open Ended. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 3(1), 8–11. https://doi.org/10.15294/jpii.v3i1.2902

Haryanto, H. (2013). PENGEMBANGAN COMPUTERIZED ADAPTIVE TESTING (CAT) DENGAN ALGORITMA LOGIKA FUZZY. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 15(1), 47–70. https://doi.org/10.21831/pep.v15i1.1087

Hassan, K. E., & Madhum, G. (2007). Validating the Watson Glaser Critical Thinking Appraisal. Higher Education, 54(3), 361–383. https://doi.org/10.1007/s10734-006-9002-z

Herbert, Putro, B. L., Putra, R. R. J., & Fitriasari, N. S. (2019). Learning Management System (LMS) model based on machine learning supports 21st century learning as the implementation of curriculum 2013. Journal of Physics: Conference Series, 1280, 032032. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1280/3/032032

Husen, D. N. (2015). PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING. Jurnal ßIOêduKASI, 3(2), 367–372.

Istiyono, E. (2020). Developing Instrument of Essay Test to Measure the Problem-Solving Skill in Physics. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 16(2), 72–82. https://doi.org/10.15294/jpfi.v16i2.24249

Istiyono, E., Dwandaru, W. B., Setiawan, R., & Megawati, I. (2020). Developing of Computerized Adaptive Testing to Measure Physics Higher Order Thinking Skills of Higher School Students and its Feasibility of Use. European Journal of Educational Research, 9(1), 91–101. https://doi.org/10.12973/eu-jer.9.1.91

Istiyono, E., Dwandaru, W. S. B., & Faizah, R. (2018). Mapping of physics problem-solving skills of senior high school students using PhysProSS-CAT. Research and Evaluation in Education, 4(2), 144–154. https://doi.org/10.21831/reid.v4i2.22218

Kemendikbud RI. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Kemendikbud RI. (2020). Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Ketabi, S., Alavi, D. S. M., & Ravand, D. H. (2021). Diagnostic Test Construction: Insights from Cognitive Diagnostic Modeling. International Journal of Language Testing, 11(1), 22–35.

Kubiszyn, T., & Borich, G. D. (2013). Educational Testing and Measurement_ Classroom Application and Practice. USA: Wiley.

Mason, A. J., & Singh, C. (2016). Surveying college introductory physics students’ attitudes and approaches to problem solving. European Journal of Physics, 37(5), 055704. https://doi.org/10.1088/0143-0807/37/5/055704

Mas’ula, N., & Rokhis, T. A. (2020). Pengembangan Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Pada Pokok Bahasan Kinematika. SAP (Susunan Artikel Pendidikan), 4(3). https://doi.org/10.30998/sap.v4i3.6279

Mundilarto, D. (2010). Penilaian Hasil Belajar Fisika. Pusat Pengembangan Instruksional Sains (P2IS) Jurdik Fisika FPMIPA UNY.

National Research Council. (2012). A FRAMEWORK FOR K-12 SCIENCE EDUCATION Practices, Crosscutting Concepts, and Core Ideas. Washington, DC: The National Academies Press.

OECD. (2018). Programme for International Student Assessment (PISA) Result From PISA 2018. Paris : OECD Publishing.

OECD. (2019). PISA 2018 Assessment and Analytical Framework. Paris: Paris: OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/b25efab8-en

Perdana, R., Riwayani, R., Jumadi, J., Rosana, D., & Soeharto, S. (2019). Specific Open-Ended Assessment: Assessing Students’ Critical Thinking Skill on Kinetic Theory of Gases. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 8(2), 127–140. https://doi.org/10.24042/jipfalbiruni.v0i0.3952

Pratiwi, I. (2019). EFEK PROGRAM PISA TERHADAP KURIKULUM DI INDONESIA. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 4(1), 51. https://doi.org/10.24832/jpnk.v4i1.1157

Prihatni, Y., Kumaidi, K., & Mundilarto, M. (2016). Pengembangan Instrumen Diagnostik Kognitif Pada Mata Pelajaran IPA di SMP. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 20(1), 111–125. https://doi.org/10.21831/pep.v20i1.7524

Rahayu, V. A., Haryani, S., & Dewi, S. H. (2019). KEEFEKTIFAN PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA. 5.

Retnawati, H. (2014). TEORI RESPONS BUTIR DAN PENERAPANNYA : Untuk Peneliti, Praktisi Pengukuran dan PengujianJ Mahasiswa Pascasarjana. Yogyakarta: Parama Publishing.

Retnawati, H. (2016). ANALISIS KUANTITATIF INSTRUMEN PENELITIAN (Panduan Peneliti, Mahasiswa, dan Psikometrian). Yogyakarta: Parama Publishing.

Rositasari, D., Saridewi, N., & Agung, S. (2014). Pengembangan Tes Diagnostik Two-Tier Untuk Mendeteksi Miskonsepsi Siswa SMA Pada Topik Asam-Basa. EDUSAINS, 6(2), 170–176.

Rusilowati, A. (2006). Profil Kesulitan Belajar Fisika Pokok Kelistrikan Siswa SMA di Kota Semarang. Jurnal Pend. Fisika Indonesia, 4(2), 100–106.

Rusilowati, A. (2015). Pengembangan Tes Diagnostik Sebagai Alat Evaluasi Kesulitan Belajar Fisika. Prosiding Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika (SNFPF) Ke-6 2015, 6(1), 1–10.

Sambada, D. (2012). Peranan Kreativitas Siswa Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Fisika Dalam Pembelajaran Kontekstual. Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA), 2(2), 37. https://doi.org/10.26740/jpfa.v2n2.p37-47

Tan, C. (2020). Conceptions and Practices of Critical Thinking in Chinese Schools: An Example from Shanghai. Educational Studies, 56(4), 331–346. https://doi.org/10.1080/00131946.2020.1757446

Triumiana, D. A., & Sudarsono, F. (2017). Pengembangan Instrumen Tes Diagnostik Mata Pelajaran Fisika Kelas XI SMA Negeri 2 Bantul Semester Genap 2017/2018. WIDYA DHARMA Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 5(2), 10.

Wagensberg, J. (2015). On Quantity and Quality in Human Knowledge. Biological Theory, 10(3), 273–280. https://doi.org/10.1007/s13752-015-0218-y

Zaleha, Z., Samsudin, A., & Nugraha, M. G. (2017). Pengembangan Instrumen Tes Diagnostik VCCI Bentuk Four-Tier Test pada Konsep Getaran. Jurnal Pendidikan Fisika dan Keilmuan (JPFK), 3(1), 36. https://doi.org/10.25273/jpfk.v3i1.980

Zulfikar, A., Samsudin, A., & Saepuzaman, D. (2017). Pengembangan Terbatas Tes Diagnostik Force Concept Inventory Berformat Four-Tier Test. WaPFi (Wahana Pendidikan Fisika), 2(1), 43–49. https://doi.org/10.17509/wapfi.v2i1.4903

 

Lampiran: Cmaps Penelitian dan Evaluasi Pendidikan

 


 

 


Comments

Popular posts from this blog

Makna Filosofis dibalik Fenomena PBM di Sekolah pada Mata Pelajaran Fisika (Part 1)