Makna Filosofis dibalik Fenomena PBM di Sekolah pada Mata Pelajaran Fisika (Part 1)

MAKNA FILOSOFIS DIBALIK FENOMENA PBM DI SEKOLAH MATA PELAJARAN FISIKA
 Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Tahun 2019 


1.    Makna Filosofis dibalik Hukum Kekekalan Momentum.
Momentum adalah suatu benda yang bergerak tidak hanya bergantung pada kelakuan (gerakan) benda saja, tetapi juga bergantung pada massanya. Berdasarkan temuan, konsep kekekalan momentum yang ditemukan oleh Descartes dapat diketahui bahwa konsep ini merujuk pada beberapa aliran filsafat idealisme dan realisme  yang selanjutnya dikombinasikan menjadi aliran rasionalisme.
Adapun tiga kajian filsafat pada konsep momentum yaitu:
a)      Dasar Ontologi Hukum Kekekalan Momentum.
Objek yang dikaji dalam konsep ini adalah produk massa dan kecepatan yang selanjutnya disebut sebagai momentum. Gagasan Decartes mengenai inersia berkembang menjadi sebuah prinsip energi konservasi. Dasar pemikiran Decartes, mengenai energi konservasi adalah prinsip kekekalan gerak, yang mana seluruh jagat raya dibuat sama oleh mekanisme gerakan yang kekal. Selagi sebuah objek sudah berjalan, maka objek tersebut akan terus berjalan hingga ada paksaan eksternal yang mengganggu. Oleh sebab itu, Decartes berpendapat bahwa bumi, planet, matahari yang bergerak akan terus bergerak. Dari sini Descartes mengembangkan temuannya dengan menumbukkan benda yang bergerak, dan ditemukan konsep hukum kekekalan momentum. Menunjukkan bahwa momentum benda sesaat sebelum tumbukkan sama dengan momentum benda setelah melakukan tumbukan.
b)      Dasar Epistemologi Hukum Kekekalan Momentum.
Tinjauan epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal ini, konsep momentum bisa ada berdasarkan pernyataan Descartes yang memperkenalkan bahwa besaran benda yang bergerak harus bergantung pada karakter yang mengikuti pada benda (kelakuan benda). Selain bergantung pada kecepatan, besaran juga bergantung pada massa. Konsep ini dikemukakan oleh Decartes karena filsafat pada zaman itu beranggapan bahwa jagat raya digerakkan oleh mekanisme penggerak yang kekal. Suatu benda yang bergerak akan tetap bergerak tanpa ada faktor eksternal yang mempengaruhi.
Gagasan yang dikemukakan oleh Decartes juga berangkat dari percobaan yang dilakukan oleh Galileo atas bantahan terhadap pernyataan Aristoreles. Aristoteles menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh terlebih dahulu dibandingkan benda yang lebih ringan. Galileo membantah pernyataan tersebut dengan melakukan uji coba di menara pisa. Dengan menjatuhkan dua benda yang massanya sama dan dijatuhkan pada ketinggian yang sama, ternyata waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke permukaan tanah adalah sama. Tetapi, diduga bahwa benda yang lebih berat menghantam permukaan tanah menyebabkan kerusakan yang besar dibandingkan dengan benda yang bermassa lebih ringan. Dari sini, Decartes mendefisnisikan bahwa besaran dari suatu benda yang bergerak tidak bergantung pada kecepatannya saja, tetapi juga bergantung pada massanya. Besaran ini dinyatakan sebagai hasil kali kecepatan dan massa benda. Total besaran ini harus berada di ruang yang terisolasi.
c)      Dasar Aksiologi Hukum Kekekalan Momentum.
Pembahasan terkait dasar aksiologi adalah mengenai bagaimana manfaat dari konsep yang diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari konsep momentum telah banyak dikembangkan menjadi teori yang lebih kompleks. Kajian teoritis konsep momentum menjadi pijakan untuk mendalami materi yang lebih lanjut. Salah satunya dalam membahas kajian mengenai fisika modern, efek fotolistrik, dan tinjauan relativitas. Di sisi lain, penerapan dari konsep momentum telah menghasilkan berbagai produk yang berguna bagi masyarakat. Misalnya, aplikasi momentum dalam alat-alat pertahanan, seperti peluru dan meriam. Aplikasi momentum dalam pengembangan kendaraan.
2.      Makna Filosofis dibalik Hukum Newton
Hukum Newton adalah suatu aturan yang mengatur tentang gerak yang ditinjau secara makroskopik. Dalam tinjuaan fisika hukum newton masuk dlam kajian fisika klasik. Jika dilihat dari bagaimana cara menggabungkan realitas apel, serta konsep yang dibangun oleh galileo galilei maka nampak sekali perpaduan antara realitas materi dan ide yang dipakai oleh newton dalam membangun konsep gravitasi, maka aliran empirisme sangat cocok dengan penemuan ini.


a)             Dasar ontologi hukum Newton
Objek telaah dari hukum Newton  ada dua yaitu objek material dan objek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti Objek kajian dalam hukum Newton adalah sebuah benda bermassa yang berada dijagad raya. Hal ini mencangkup semua benda, baik planet, manusia maupun benda-benda lainnya. Adapun obyek formalnya merupakan metode untuk memahami obyek material tersebut, yaitu dengan menggunakan pendekatan induktif.
b)             Dasar Epistimologi Hukum Newton
Langkah dalam epistemologi hukum Newton antara lain berpikir induktif dengan mengkaji pengetahuan-pengetahuan sebelumnya seperti Gallilei Gallileo yaitu Pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan setelah pengalaman (diperoleh dari pengalaman) berupa observasi dan eksperimen. Hukum Newton tentang gravitasi adalah hukum yang membahas tentang gaya tarik-menarik antara benda yang dipengaruhi oleh massa serta jaraknya. Berdasarkan kisah yang diabadikan sejarah, Hukum Gravitasi diperoleh Newton ketika sebuah apel jatuh ke kepalanya sewaktu ia sedang merenungi masalah di bawah sebuah pohon apel di pekarangan rumahnya.
c)      Dasar Aksiologi Hukum Newton
Aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Melalui pengetahuan Hukum Newton ini banyak manfaat yang diperoleh manusia diantaranya yaitu : untuk Menghitung Satelit, menghitung Kecepatan Satelit Menggunakan Hukum Gravitasi, Menghitung Jarak Orbit Satelit Menghitung.
3.      Makna Filosofis dibalik Hukum Pascal
Hukum pascal mengkaji tentang hidrodinamika. Hukum Pascal menyatakan bahwa Tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar. Berdasarkan temuan konsep fisika yang dilakukan oleh Pascal dipengaruhi aliran filsafat yang mempengaruhi adalah aliran filsafat idelisme, realisme, dan empirisme.
Ada tiga kajian filsafat pada konsep pascal:
a)      Dasar ontologi Hukum Pascal 
Objek telaah dari hukum pascal ada dua yaitu objek material dan objek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti fluida. Adapun obyek formalnya merupakan metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Dalam perspektif ini dapat penulis uraikan bahwa hukum pascal pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif (Fakta dan kebenaran)
Ø  Fakta
Objek kajian dalam hukum pascal merupakan fakta. Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris. Fakta dalam prosesnya kadang kala dapat menjadi sebuah ilmu namun juga sebaliknya.
Ø  Kebenaran
Kebenaran hukum pascal sudah terbukti secara korespondensi, koherensi, performatif, pragmatic, dan proposisi. Hukum pascal merupakan suatu kebenaran karena bunyi hukum tersebut/teori pascal telah tebukti secara ilmiah dan sesuai dengan keadaan alamiah sutau benda.
b)      Dasar Epistimologi Hukum pascal
Langkah dalam epistemologi hukum pascal antara lain berpikir deduktif dan induktif. Hukum pascal adalah hukum yang membahas tentang perilaku fluida dalam ruangan tertutup bila diberi tekanan. Berdasarkan kisah yang diabadikan sejarah, pascal memiliki sebuah replika percobaan yang berupa tabung sepanjang 31 inci (78,7 cm) yang diisi air raksa yang diposisikan terbalik dalam sebuah mangkok mercuri. Pascal ingin mengetahui kekuatan apa yang menjaga mercuri dalam tabung, dan apa yang mengisi ruang kosong dibagian atas dalam tabung mercuri tersebut. Apakah berisi: udara? uap air raksa? kehampaan? Pada waktu itu, kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa ruang kosong ditabung atas mercuri tersebut adalah tak lebih daripada vacuum ( kosong ), dan beberapa kejadian yang dianggap tak mungkin oleh ilmuwan sebelumnya, telah terlihat saat percobaan itu dilakukan.  
c)       Dasar Aksiologi Hukum Pascal
Ada banyak dasar aksiologi dari hukum pascal  yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, karena tujuan diciptakannya hukum pascal ini adalah untuk memberikan manfaat dan kemudahan dalam kehidupan manusia. Beberapa diantara aplikasi hukum pascals yang mempermudah manusia antara lain: dongkrak hidrolik dan pompa hidrolik. Kesemuanya itu merupakan nilai aksiologi hukum pascal.Hukum pascal bukan hanya sebua teori kontekstual namun memiliki banya nilai aplikatif yang menjadikan alasan yang kuat bahwa pernyataan pascal merupakan suatu hukum dan bagian dari ilmu penegetahuan yang telah terbukti secara empiris.
4.      Makna Filosofis dibalik Hukum Archimedes
Hukum Archimedes  membahas tentang subtansi yang dimiliki suatu benda. Archimedes telah menemukan sebuah prinsip, bahwa tingkat kemurnian substasi adalah sama di manapun substansi berada. Setiap penambahan kedalam substansi tersebut akan mengubah berat keseluruhan. Tumpahan air merupakan cara sederhana untuk mengetahui hal tersebut. Berdasarkan temuan konsep fisika yang dilakukan oleh Archimedes aliran filsafat yang mempengaruhi adalah aliran filsafat empirisme dan realisme. Aliran filsafat empirisme mencoba memaparkan bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman. Oleh karena itu pengalaman Archimedes menjadi sumber pengetahuan juga yaitu menemukan konsep Archimedes tersebut. Sedangkan, aliran filsafat realisme anggapan bahwa obyek indera kita adalah real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Karena itu fenomena  yang terjadi pada air ketika Archimedes mencelupkan badannya dan berubah ketinggian merupakan suatu keadaan yang real.
Ada tiga kajian filsafat pada konsep Archimedes:
a)      Dasar ontologi hukum Archimedes
Objek telaah dari hukum archimedes ada dua yaitu objek material dan objek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti fluida, dan massa jenis adalah obyek material hukum archimedes. Adapun obyek formalnya merupakan metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Dalam perspektif ini dapat penulis uraikan bahwa hukum Archimedes pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif (Fakta dan kebenaran)
1)      Fakta
Objek kajian dalam hukum Archimedes merupakan fakta. Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris. Fakta dalam prosesnya kadang kala dapat menjadi sebuah ilmu namun juga sebaliknya. Fakta tidak akan dapat menjadi sebuah ilmu manakala dihasilkan secara random saja. Namun bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa system serta dilakukan secara sekuensial, maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah hukum atau bahkan ilmu. Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya. Contoh fakta yang dikaji atau dibahas dalam hukum Archimedes adalah seperti tumpahnya air dalam baskom yang penuh ketika dimasukkan suatu benda.
2)      Kebenaran
Kebenaran hukum Archimedes sudah terbukti secara korespondensi, koherensi, performatif, pragmatic, dan proposisi. Hukum Archimedes merupakan suatu kebenaran karena bunyi hukum tersebut/teori Archimedes telah tebukti secara ilmiah dan sesuai dengan keadaan alamiah sutau benda. Berikutnya keterhubungan antar objek kajian Archimedes dengan hukum Archimedes itu sendiri adalah dapat dilihat pada penjelasan bagian A dimana pada bagian A telah dijelaskan bahwa antara gaya apung, massa jenis, volume zat cair yang dipindahkan dan percepatan gravitasi dapat dihubungkan melalui persamaan Fa=ρ g v.
b)     Dasar Epistimologi Hukum Archimedes
Epistemologi dapat didefenisikan juga sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. Hukum Archimedes adalah hukum yang membahas tentang perilaku suatu benda yang mengalami gaya ketas ketika berada dalam suatu fluida. Berdasarkan kisah yang diabadikan sejarah, Archimedes menemukan hukum gaya apung/Archimedes ketika ia diperintahkan oleh raja untuk menguji mahkota kebesaran raja, apakah terbuat dari emas atau tidak. Arhimedes secara alami akhirnya mengetahui penyelesaian permasalahan tersebut dengan kembali ke alam. Ia berpikir secara alami dengan berendam disebuah bak yang penuh dengan air kemudian terlihatlah olehnya ada beberapa air yang tertumpah. Perilaku air yang seperti ini merupakan perilaku alami yang dapat dipahami oleh Archimedes bahwa air yang tumpah tersebut tidak lain adalah sama dengan volume tubuhnya. Dan pada akhirnya menarik kesimpulan secara matematis bahwa  Fa=ρ g v.
c)      Dasar Aksiologi Hukum Archimedes
Ada banyak dasar aksiologi dari hukum archimedes yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, karena tujuan diciptakannya hukum archimedes ini adalah untuk memberikan manfaat dan kemudahan dalam kehidupan manusia. Beberapa diantara aplikasi hukum archimedes yang mempermudah manusia antara lain: pembuatan kapal selam dan kapal laut. Kesemuanya itu merupakan nilai aksiologi hukum archimedes. Hukum archimedes bukan hanya sebua teori kontekstual namun memiliki banya nilai aplikatif yang menjadikan alasan yang kuat bahwa pernyataan archimedes merupakan suatu hukum dan bagian dari ilmu penegetahuan yang telah terbukti secara empirik.
5.      Makna Filosofis dibalik Relativitas Khusus
Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah mereka bergerak atau diam. Relativitas khusus adalah teori mengenai struktur ruang-waktu. Berdasarkan objek kajian tersebut Relativitas khusus masuk pada kajian filsafat fisika dalam aliran empirisme. Kerena ruang dan waktu merupakan materi yang dikaji secara indrawi melalui metode ilmiah.
Adapun tiga kajian filsafat pada relativitas khusus yaitu:
a)      Dasar Ontologi Relativitas Khusus.
Objek yang dikaji dalam relativitas khusus ini adalah gerak suatu partikel dalam dimensi ruang dan waktu. Gagasan  Albert Einstein  mengenai Relativitas khusus menggantikan pendapat Newton tentang ruang dan waktu dan memasukan elektromagnetisme sebagaimana tertulis oleh persamaan Maxwell. Teori ini disebut "khusus" karena dia berlaku terhadap prinsip relativitas pada kasus "tertentu" atau "khusus" dari rangka referensi inertial dalam ruang waktu datar, di mana efek gravitasi dapat diabaikan.
b)      Dasar Epistemologi Relativitas Khusus.
Tinjauan epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal ini, konsep relativitas khusus bisa ada berdasarkan pernyataan Gelombang elektromagnetik dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat. Inti pemikiran dari kedua teori ini adalah bahwa dua pengamat yang bergerak relatif terhadap masing-masing akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama, tetapi isi hukum fisika akan terlihat sama oleh keduanya. Konsep ini dikemukakan oleh Einstein karena filsafat pada zaman itu beranggapan bahwa jagat raya digerakkan oleh mekanisme penggerak yang kekal.  Suatu benda yang bergerak akan tetap bergerak tanpa ada faktor eksternal yang mempengaruhi.
c)      Dasar Aksiologi Relativitas Khusus.
Pembahasan  terkait dasar aksiologi adalah mengenai bagaimana manfaat dari konsep yang diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari Relativitas Khusus telah banyak dikembangkan menjadi teori yang lebih kompleks. Kajian teoritis konsep Relativitas Khusus menjadi pijakan untuk mendalami materi yang lebih lanjut. Salah satunya dalam membahas kajian mengenai fisika modern,  elektomagnetik, dan navigasi. Salah manfaat dari Relativitas Khusus yang paling banyak digunkan oleh manusia saat ini yaitu GPS (Global Position System) dan Televisi.

6.      Makna Filosofis dibalik Hukum Termodinamika
Termodinamika (berasal dari kata thermos (panas) dan dynamic (gerak atau perubahan)) adalah salah satu cabang dari ilmu fisika yang mempelajari panas dan temperatur, serta hubungan keduanya pada energi dan gerak. Inti dari pembahasan termodinamika adalah bagaimana energi dalam bentuk panas dapat mengalir dari satu benda ke benda lain, proses dari aliran energi tersebut, dan akibat yang dihasikan oleh perpindahan energi tersebut. Berdasarkan objek kajian tersebut termodinamika masuk pada kajian filsafat fisika dalam aliran empirisme.
Adapun tiga kajian filsafat pada termodinamika yaitu:
a)      Dasar Ontologi Termodinamika.
Objek yang dikaji dalam relativitas khusus ini adalah panas dan temperatur, serta hubungan keduanya pada energi dan gerak. Hukum termodinamika kebenarannya sangat umum, dan hukum-hukum ini tidak bergantung kepada rincian dari interaksi atau sistem yang diteliti. Ini berarti mereka dapat diterapkan ke sistem di mana seseorang tidak tahu apa pun kecuali perimbangan transfer energi dan wujud di antara mereka dan lingkungan. Contohnya termasuk perkiraan Einstein tentang emisi spontan dalam abad ke-20 dan riset sekarang ini tentang termodinamika benda hitam
b)      Dasar Epistemologi Termodinamika.
Tinjauan epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal ini, konsep termodinamika bisa ada berdasarkan Pada sistem tempat terjadinya proses perubahan wujud atau pertukaran energi, termodinamika klasik tidak berhubungan dengan kinetika reaksi (kecepatan suatu proses reaksi berlangsung). Karena itu, penggunaan istilah "termodinamika" biasanya merujuk pada termodinamika setimbang, yang mana konsep utamanya adalah proses kuasistatik, yang diidealkan. Sementara itu, termodinamika bergantung-waktu adalah termodinamika tak-setimbang. Pengabstrakkan dasar atas termodinamika adalah pembagian dunia menjadi sistem dibatasi oleh kenyataan atau ideal dari batasan. Sistem yang tidak termasuk dalam pertimbangan digolongkan sebagai lingkungan. Dan pembagian sistem menjadi subsistem masih mungkin terjadi, atau membentuk beberapa sistem menjadi sistem yang lebih besar. Biasanya sistem dapat diberikan keadaan yang dirinci dengan jelas yang dapat diuraikan menjadi beberapa parameter. Dari prinsip-prinsip dasar termodinamika secara umum bisa diturunkan hubungan antara kuantitas misalnya, koefisien ekspansi, kompresibilitas, panas jenis, transformasi panas dan koefisien elektrik, terutama sifat-sifat yang dipengaruhi temperatur.
c)      Dasar Aksiologi Termodinamika.
Pembahasan  terkait dasar aksiologi adalah mengenai bagaimana manfaat dari Termodinamika yang diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari Termodinamika telah banyak dikembangkan menjadi teori yang lebih kompleks.. Salah satunya dalam membahas kajian mengenai fisika modern,  elektomagnetik, dan navigasi. Salah manfaat dari Termodinamika yang paling banyak digunkan oleh manusia saat ini yaitu mesin pemanas, mesin pendingin, termos air, dan mesin kendaraan.

7.      Makna Filosofis dibalik Hukum Faraday
Hukum Faraday adalah Hukum dasar Elektromagnetisme yang menjelaskan bagaimana arus listrik menghasilkan medan magnet dan sebaliknya bagaimana medan magnet dapat menghasilkan arus listrik pada sebuah konduktor. Berdasarkan objek kajian tersebut Hukum Faraday masuk pada kajian filsafat fisika dalam aliran empirisme.
Adapun tiga kajian filsafat pada hukum faraday yaitu:
a)      Dasar Ontologi Hukum Faraday.
Objek yang dikaji dalam hukum ini adalah listrik dan medan magnet, serta hubungan keduanya. Gagasan faraday mengenai medan magnet dibuktikan dalam percobaanya mengunkaan galvanometer, kumparan dan sebuah magnet.
b)      Dasar Epistemologi Hukum Faraday.
Tinjauan epistemologi berkaitan dengan “Bagaimana ilmu tersebut bisa ada?”. Dalam hal ini, konsep hukum faday  bisa ada berdasarkan ekeprimen yang dilakukan oleg michel faday. Michael Faraday mengambil sebuah magnet dan sebuah kumparan yang terhubungkan ke galvometer. Pada awalnya, magnet diletakkan agak berjauhan dengan kumparan sehingga tidak ada defleksi dari galvometer. Jarum pada galvometer tetap menunjukan angka 0. Ketika magnet bergerak masuk ke dalam kumparan, jarum pada galvometer juga bergerak menyimpang ke satu arah tertentu (ke kanan). Pada saat magnet didiamkan pada posisi tersebut, jarum pada galvometer bergerak kembali ke posisi 0. Namun ketika magnet digerakan atau ditarik menjauhi kumparan, terjadi defleksi pada galvometer, jarum pada galvometer bergerak menyimpang berlawanan dengan arah sebelumnya (ke kiri). Pada saat magnet didiamkan lagi, jarum pada galvometer kembali ke posisi 0. Demikian juga apabila yang bergerak adalah Kumparan, tetapi Magnet pada posisi tetap, galvometer akan menunjukan defleksi dengan cara yang sama.  Dari percobaan Faraday tersebut juga ditemukan bahwa semakin cepat perubahan medan magnet semakin besar pula gaya gerak listrik yang diinduksi oleh kumparan tersebut.
c)      Dasar Aksiologi Hukum Faraday.
Pembahasan  terkait dasar aksiologi adalah mengenai bagaimana manfaat dari. Salah satunya dalam membahas kajian mengenai elektonika, medang maganet, Salah satu manfaat hukum faday yaitu mesin pembangkit listrik atau kita kenal sebagai generator.
8.      Makna Filosofis dibalik Literasi
Menurut UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), arti literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks yang mana ketrampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa literasi adalah kemampuan dalam berkomunikasi dalam memahami dan menyampaikan gagasan yang bisa dilihat secara nyata. Berdasarkan kajian tersebut aliran filsafat dari literasi adalah empirisme dan realisme.
a)      Dasar Ontologi Literasi
Literasi membatasi diri hanya pada kejadian yang bersifat empiris, mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia atau yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya. Dengan demikian obyek literasi adalah dunia pengalaman indrawi. Literasi mengkaji kemampuan menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang ada, sehingga dapat memahami dan membuat keputusan berkaitan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia.


b)     Landasan Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha kita memperoleh pengetahuan.
Literasi merupakan pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Ilmu lebih bersifat kegiatan dinamis tidak statis. Setiap kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah sah disebut keilmuan.
c)       Landasan Aksiologi
Manfaat literasi dalam kehidupan manuasia yaitu mampu memahami kehidupan dan bisa berintrraksi dengan manusia yang lainnya. Selain itu menambah perbendaharaan kata (kosa kata) seseorang, mengoptimalkan kinerja otak karena sering digunakan untuk kegiatan membaca dan menulis, mendapat berbagai wawasan dan informasi baru, Kemampuan interpersonal seseorang akan semakin baik, dan kemampuan memahami makna suatu informasi akan semakin meningkat.

9.      Makna Filosofis dibalik Sains
Sains adalah serapan dari kata Bahasa Inggris Science yang diambil dari Bahasa Latin Sciencia yang berarti Pengetahuan (Poedjiadi, 2010). Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas dalam Mahyuddin, 2007). Berdasarkan kajian tersebut aliran filsafat dari literasi adalah empirisme.
a)      Dasar Ontologi Sains
Dalam kajian ontologis, objek dibahas dari keberadaannya mencakup lingkup batas jati diri (being) dan keberadaan eksistensi penelaahan objek (sasaran) keilmuan serta penafsiran tentang hakekat (kenyataan) yang khas dari objek keilmuan, guna membentuk konsep tentang objek (alam nyata, baik universal ataupun spesifik). Objek kajian dari siains adalah alam dan segala yang ada didalamnya. Beberapa contoh pertanyaan yang merupakan persoalan ontologi misalnya apa eksistensi dari zat padat? Apa itu sel? Bagaimana penjelasan elektronik, termodinamika atau hukum gravitasi?
b)     Dasar Epistemologi Sains
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara rasional, sains menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, dan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai fakta dengan yang tidak sehingga terjadi penyempurnaan teori atau paradigma yang akhirnya membawa ilmu tersebut menjadi sains normal.  Contoh dari epistemologi ilmu dibahas dalam materi sains normal.
c)      Dasar aksiologi Sains
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat sains dalam kehidupan yaitu mampu memecahkan permasalah manusia. Dapat membantu meningkatkan taraf hidup manusia. Adapun manfaat sains secara lebih spesifik:
1.      Menimbulkan rasa ingin tahu terhadap kondisi lingkungan alam.
2.      Memberikan wawasan akan konsep alam yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Ikut menjaga, merawat, mengelola, dan melestarikan alam
4.      Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan ide-ide mengenai lingkungan alam disekitar.
5.      Konsep yang ada dalam Ilmu Pengetahuan Alam berguna untuk menjelaskan berbagai peristiwa-peristiwa alam dan menemukan cara untuk memecahkan permasalahan tersebut.
6.      Membangun rasa cinta terhadap alam yang telah di ciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
7.      Menyadari pentingnya peran alam dalam kehidupan sehari-hari.
8.      Dapat memberikan pengetahuan tentang teknologi dan dampak serta hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari.
9.      Memberikan Pengetahuan untuk mengetahui perkembangan makhluk hidup dari zaman ke zaman.
10.  Memberikan pengetahuan tentang perkembangan proses penciptaan alam semesta hingga seperti saat ini.
11.  Membantu manusia dalam pengembangan IPTEK

10.  Makna Filosofis dibalik Berfikir Kritis
Michael Scriven & Richard Paul menjelaskan bahwa berpikir kritis melibatkan proses yang secara aktif dan penuh kemampuan untuk membuat konsep, menerapkan, menganalisis, menyarikan, dan mengamati sebuah masalah yang diperoleh ataupun diciptakan dari pengamatan, pengalaman, komunikasi dan lain sebagainya. Selain itu chance  mengungkapkan  berfikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisa fakta yang ada kemudian membuat beberapa gagasan dan mempertahankan gagasan tersebut kemudian membuat perbandingan untuk menemukan sebuah solusi dari permasalahan yang ada. Berfikir Kritis masuk dalam kajian filsafat pendidikan.  Aliran filsafat dari berfikir kritis adalah rasionalisme dan kritisisme kerena objek kajian dari berfikir kritis adalah pengetahuan manusia yang sejalan dengan nalar atau logika manusia.
a)      Dasar Ontologi Berfikir Kritis
Dalam kajian ontologis, objek kajian berfikir kritis adalah pengetahuan manusia. Berfikir kiritis diperoleh berdasarka naluri berpikir yang dimilki manusia terhadap sesuatu permasalahan.
b)     Dasar Epistemologi Berfikir Kritis
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Berpikir adalah proses otak melakukan pengumpulan dan analisa informasi, dimana kumpulan semua informasi ini misalnya dibutuhkan dalam membuat keputusan, membuat konsep, melakukan penalaran, serta membuat pemecahan suatu masalah. Secara rasional, berfikir kritis berarti menemukan kesimpulan dan keputusan yang informatif, bermanfaat, serta dapat dipertanggungjawabkan. Karena keputusan dan kesimpulan tersebut diperoleh dari analisis berbagai pendapat, asumsi, serta ide yang beragam dan bermacam-macam.
c)      Dasar Aksiologi Berfikir Kritis
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat berfikir kritis dalam kehidupan yaitu 1) Memiliki banyak alternatif jawaban dan ide kreatif, 2) Mudah memahami sudut pandang orang lain, 3) Menjadi rekan kerja yang baik, 4) Lebih Mandiri, 5) Sering menemukan peluang baru, 6) Meminimalkan salah persepsi pada saat mengabil keputusan.

11.  Makna Filosofis dibalik Berfikir Kreatif
Johnson (2009: 183) menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah kegiatan mental yang memupuk ide-ide asli dan pemahaman-pemahaman yang baru. Johnson menambahkan bahwa berpikir kreatif merupakan sebuah kebiasaan dari pikiran yang dilatih dengan memperhatikan intuisi, menghidupkan imajinasi, mengungkapkan kemugkinan kemungkinan baru, membuat sudut pandang yang menakjubkan, serta membangkitkan ide-ide yang tidak terduga. Aliran filsafat dari berfikir kreatif adalah rasionalisme dan progresivisme kerena objek kajian dari berfikir kreatif adalah pengetahuan manusia yang sejalan dengan nalar.
a)      Dasar Ontologi Berfikir Kreatif
Dalam kajian ontologis, objek kajian berfikir kreatif adalah pengetahuan manusia. Berpikir pada umumnya didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan pengetahuan. Kreatif didasari pada kemampuan seseorang untuk menciptakan ide atau gagasan baru sehingga membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagi tujuan dalam hidupnya.
b)     Dasar Epistemologi Berfikir Kreatif
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Berpikir adalah suatu kegiatan akal untuk mengolah pengetahuan yang telah diperoleh melalui indra dan ditujukan untuk mencapai kebenaran. Secara rasional, berfikir kreatif berarti kegitan mengelola pengetahun untuk menemukan seperangkat ide yang bermanfaat bagi kehidupan. Berpikir kreatif sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasangagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
c)      Dasar Aksiologi Berfikir Kreatif
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat berfikir kreatif dalam kehidupan yaitu membuat hidup lebih indah, meningkatkan apresiasi terhadap ide orang lain, meningkatkan motivasi dan semangat hidup, dan meningkatkan kualitas dan Taraf hidup manusia.


12.  Makna Filosofis dibalik Berfikir Inovatif
Inovasi merupakan sebuah temuan baru baik dalam bentuk ide, barang atau jasa yang berbeda dari sebelumnya dari segi bentuk, kreasi atau substansi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997: 381) Inovasi diartikan sebagai penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, misalnya gagasan, metode atau alat. Soemanto (1980: 62) juga mengungkpakan bahwa Inovasi merupakan suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara barang-barang buatan manusia, yang diamati dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat). Oleh karena itu inovasi pendidikan sangat perlu. Aliran filsafat dari berfikir inovatif adalah progesivisme. Aliran Progresivisme dapat diartikan secara umum sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat..
a)      Dasar Ontologi Berfikir Inovatif
Dalam kajian ontologis, objek kajian berfikir inovatif adalah pengetahuan manusia. berpikir sebagai segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pencapaian makna. Inovatif didasari pada kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan baru dan orisinil.
b)     Dasar Epistemologi Berfikir Inovatif
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara rasional, berfikir inovatif berarti kemampuan individu untuk memikirkan apa yang telah dipikirkan semua orang, sehingga individu tersebut mampu mengerjakan apa yang belum pernah dikerjakan oleh semua orang.
c)      Dasar aksiologi Berfikir Inovatif
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat berfikir inovatif dalam kehidupan yaitu: meningkatkan produktivitas & mengurangi biaya, Kualitas yang lebih baik, Menciptakan berbagai produk baru, dan memberikan nilai tambah.
13.  Makna Filosofis dibalik Berfikir Efektif
Berfikir Efektif adalah cara berfikir dengan menggunakan kreatifitas (mengumpulkan, memilih, dan mengkombinasikan beberapa alternatif) agar diperoleh hasil yang maksimal. Berfikir Efektif adalah cara berfikir yang berorientasi ke Hasil (misalnya fokus ke hasil yang maksimal, menyelesaikan masalah secara akurat, langsung ke inti persoalan). Yang dimaksud berfikir efektif disini adalah cara berpikir seorang individu yang dapat berdampampak baik dan menimbulkan kesan yang positif. Aliran filsafat dari berfikir efektif adalah progesivisme. Aliran Progresivisme dapat diartikan secara umum sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat.
a)      Dasar Ontologi Berfikir Efektif
Dalam kajian ontologis, objek kajian berfikir efektif adalah pengetahuan manusia. efektif didasarkan pada tercapainya berbagai sasaran yang ditentukan tepat pada waktunya dengan menggunakan sumber-sumber tertentu yang sudah dialokasikan untukmelakukan kegiatan tertentu.
b)     Dasar Epistemologi Berfikir Efektif
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara rasional, berfikir efektif berarti berfikir untuk mengerjakan pekerjaan yang benar. Efektivitas secara umum menunjukkan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan.
c)      Dasar aksiologi Berfikir Efektif
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat berfikir efektif dalam kehidupan yaitu dapat mencapai tujuan yang maksimal dari apa yang di harapkan.
14.  Makna Filosofis dibalik Berfikir Efisien
Berfikir efisien adalah cara berfikir yang berorientasi ke Proses (misalnya fokus ke waktu yang lebih cepat, energi yang lebih sedikit, dan biaya yang lebih murah. kata “efisien” bisa diartikan dengan “mampunya melakukan sesuatu dengan tepat, cermat dan berdaya guna (memiliki arti (manfaat) dan memiliki nilai). Atau kata “efisien” bisa diartika juga dengan “tepatnya atau kesesuaian dalam mengerjakan (menghasilkan) sesuatu dengan tidak membuang-buangnya waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain lagi yang bernilai”. Jadi, dari penjelasan di atas maka pengertian berpikir efisien dapat diartikan dengan “menggunakan akal kita untuk menimbang sesuatu atau memilih sesuatu dengan tepat dan cermat, juga harus memiliki daya guna yang tinggi, dalam artian sangat bermanfaat dan berguna dari hasil kegiatan berpikir kita tersebut. Aliran filsafat dari berfikir efektif adalah progesivisme. Aliran Progresivisme dapat diartikan secara umum sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat.

a)      Dasar Ontologi Berfikir Efisien
Dalam kajian ontologis, objek kajian berfikir efisien adalah pengetahuan manusia. berpikir” adalah memerankannya akal kita untuk melakukan dan memilih sesuatu, itu bisa dinamakan dengan berpikir. Efesien bisa diartikan dengan “mampunya melakukan sesuatu dengan tepat, cermat dan berdaya guna (memiliki arti (manfaat) dan memiliki nilai). Atau kata “efesien” bisa diartika juga dengan “tepatnya atau kesesuaian dalam mengerjakan (menghasilkan) sesuatu dengan tidak membuang-buangnya waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain lagi yang bernilai.
b)     Dasar Epistemologi Berfikir Efisien
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Secara rasional, berfikir efisien berarti menggunakan akal kita untuk menimbang sesuatu atau memilih sesuatu dengan tepat dan cermat, juga harus memiliki daya guna yang tinggi, dalam artian sangat bermanfaat dan berguna dari hasil kegiatan berpikir kita tersebut.
c)      Dasar aksiologi Berfikir Efisien
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat berfikir efisien dalam kehidupan yaitu dapat membantu menghemat biaya tenaga atau pun waktu untuk mendapatkan suatu hasil yang lebih maksimal, dapat mengolah sumber daya dengan baik dan hemat sehingga dana, waktu dan tenaga tidak banyak terbuang.

15.  Makna Filosofis dibalik Komunikasi
Menurut Achmad S. Ruky, komunikasi merupakan proses pemindahan dan pertukaran pesan, dimana pesan ini dapat berbentuk fakta, gagasan, perasaan, data atau informasi dari seseorang kepada orang lain. Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi dan/ atau mengubah informasi yang dimiliki serta tingkah laku orang yang menerima pesan tersebut. Mernurut Anderson, komunikasi merupakan proses yang dinamis. Proses ini secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku. Shannon & Weaver mendefinisikan komunikasi sebagai bentuk interaksi manusia, dimana secara sengaja maupun tidak disengaja terjadi upaya saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Bentuk interaksi ini tidak sebatas penggunaan bahasa verbal, namun juga dalam bentuk ekspresi muka, lukisan, seni, atau teknologi.
a)      Dasar Ontologi Komunikasi
Dalam kajian ontologis, objek kajian komunikasi adalah intrraksi manusia. Ontologi  komunikasi sebagai sesuatu yang terbatas pada pesan yang segaja diarahkan dan diterima oleh orang lain.
b)     Dasar Epistemologi Komunikasi
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari komunikasi berkaitan dengan persoalan apa yang kita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya sehingga pesan yang akan disampaikan dapat diterima dengan jelas dan akurat. Komunikasi mencakup semua pesan yang bermakna bagi penerima.
c)      Dasar aksiologi Komunikasi
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat komunikasi dalam kehidupan yaitu mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

16.  Makna Filosofis dibalik Kolaborasi
Menurut Kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran. Menurut Emily R. Lai kolaborasi adalah keterlibatan bersama dalam upaya terkoordinasi untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Interaksi kolaboratif ditandai dengan tujuan bersama, struktur yang simeteris dengan negosiasi tingkat tinggi melalui intertivitas dan adanya saling ketergantungan.
a)      Dasar Ontologi Kolaborasi
Dalam kajian ontologis, objek kajian kolaborasi adalah kerjasama manusia. Ontologi  kolaborasi yaitu suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.
b)     Dasar Epistemologi Kolaborasi
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari kolaborasi berkaitan dengan Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar siswa.
c)      Dasar aksiologi Kolaborasi
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat kolaborasi dalam kehidupan yaitu: Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa, Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama, Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar, Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar, Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang, Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar, Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru, dan Membangun semangat belajar sepanjang hayat.

17.  Makna Filosofis dibalik Kemampuan Pemacahan Masalah
Pemacahan Masalah (Problem solving) diartikan sebagai suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Problem Solving, menurut istilah adalah proses penyelesaian suatu permasalahan atau kejadian, upaya pemilihan salah satu dari beberapa alternatif atau option yang mendekati kebenaran dari suatu tujuan tertentu Hakikat pemecahan masalah (problem solving) adalah seseorang mengahadapi situasi yang harus memberi respons, tetapi tidak mempunyai informasi, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan cara-cara yang dapat dipergunakan dengan segera untuk memperoleh pemecahan. (Slameto : 144). Aliran filsafat dari pemecahan masalah adalah progesivisme. Aliran pemecahan masalah dapat diartikan secara umum sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat.


a)      Dasar Ontologi Kemampuan Pemacahan Masalah
Dalam kajian ontologis, objek kajian kemampuan pemacahan masalah adalah pengetahuan manusia. Memecahkan masalah, dan mengahsilkan sesuatu yang baru adalah kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lain. Suatu masalah umumnya tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir, dan banyak masalah memerlukan pemecahan yang baru bagi orang-orang atau kelompok. Sebaliknya, menghasilkan sesuatu (benda-benda, gagasan-gagasan) yang baru bagi seseorang, menciptakan sesuatu, itu mencakup pemecahan masalah.
b)     Dasar Epistemologi Kemampuan Pemacahan Masalah
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari kemampuan pemacahan masalah berkaitan dengan proses penyelesaian suatu permasalahan atau kejadian, upaya pemilihan salah satu dari beberapa alternatif atau option yang mendekati kebenaran dari suatu tujuan tertentu..
c)      Dasar aksiologi Kemampuan Pemacahan Masalah
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat kemampuan pemacahan masalah dalam kehidupan yaitu: Mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah-masalah serta mengambil keputusan secara obyektif dan rasional, Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis dan analitis, Mengembangkan sikap toleransi terhadap orang lain serta sikap hati-hati dalam mengemukakan pendapat, dan Memberikan pengalaman proses dalam menarik kesimpulan bagi siswa.

18.  Makna Filosofis dibalik Pengukuran
Menurut Cangelosi (1995: 21) pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Menurut Wiersma & Jurs (1990) pengukuran adalah penilaian numerik pada fakta-fakta dari objek yang hendak diukur menurut kriteria atau satuan-satuan tertentu. Hopkins dan Antes (1990) mengartikan pengukuran sebagai “suatu proses yang menghasilkan gambaran berupa angka-angka berdasarkan hasil pengamatan mengenai beberapa ciri tentang suatu objek, orang atau peristiwa. Jadi, Pengukuran (measurement) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan fakta kuantitatif dengan membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran standar yang disesuaikan sesuai dengan objek yang akan diukur. Pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi karakteristik atau atributnya. Aliran filsafat dari pengukuran adalah empirisme dan realisme.
a)      Dasar Ontologi Pengukuran
Dalam kajian ontologis, objek kajian pengukuran adalah pengetahuan manusia. Pengukuran dalam pendidikan berladaskan pada komptensi yang dimiliki oleh siswa.
b)     Dasar Epistemologi Pengukuran
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari pengukuran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan fakta kuantitatif dengan membandingkan sesuatu dengan satuan ukuran standar yang disesuaikan sesuai dengan objek yang akan diukur.

c)      Dasar Aksiologi Pengukuran
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat pengukuran dalam kehidupan yaitu: Mendapatkan hasil perbandingan atau nilai yang diperoleh ketika pengukuran tersebut  selesai dilakukan dan untuk membandingkan sesuatu dengan satu ukuran yang serupa.

19.  Makna Filosofis dibalik Penilaian
Menurut NSW Departement of Education (1996:324) Penilaian merupakan proses mengumpulkan fakta-fakta dan membuat keputusan mengenai kebutuhan siswa, kekuatan, kemampuan, dan kemajuannya. Penilaian merupakan proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang fungsinya untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan dalam menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan (James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis (1994). Aliran filsafat dari pengukuran adalah empirisme dan realisme.
a)      Dasar Ontologi Penilaian
Dalam kajian ontologis, objek kajian penilaian adalah pengetahuan manusia. Penilaian memberikan informasi lebih konprehensif dan lengkap dari pada pengukuran, sebab tidak hanya mengunakan instrument tes saja, tetapi juga mengunakan tekhnik non tes lainya. Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Hasil penilaian sendiri walaupun bersifat kualitatif, dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).
b)     Dasar Epistemologi Penilaian
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari penilaian berkaitan dengan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa, menjelaskan dan menafsirkan hasil pengukuran (kuantifikasi suatu objek, sifat, perlaku dll), menggambarkan informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa.
c)      Dasar Aksiologi Penilaian
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat penilaian dalam kehidupan yaitu mengetahui apakah peserta didik mampu atau tidak dalam pembahasan materi dan untuk menetapkan hasil akhir guna mengetahui apakah peserta didik tersebut sudah mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya.
20.  Makna Filosofis dibalik Evaluasi
Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia, akan tetapi kata ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily, 2000 : 220). Sedangkan menurut pengertian istilah “evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan sesuatu obyek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan” (Yunanda : 2009). Aliran filsafat dari pengukuran adalah empirisme dan progesivisme.
a)      Dasar Ontologi Evaluasi
Dalam kajian ontologis, objek kajian evaluasi adalah pengetahuan manusia. Evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan menyajikan informasi tentang suatu program untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan, menyusun kebijakan maupun menyusun program selanjutnya
b)     Dasar Epistemologi Evaluasi
Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan yang terkait dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Epistemologi dari evaluasi berkaitan dengan kegiatan atau upaya yang meliputi pengukuran dan penilaian yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan (program, produksi, prosedur). Untuk selanjutnya hasil dari kegiatan atau upaya tersebut digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi.
c)      Dasar Aksiologi Evaluasi
Aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Manfaat evaluasi dalam kehidupan yaitu untuk mengetahui apakah peserta didik berhasil mencapai tujuan belajar, memahami suatu konsep dengan menjawab beberapa soal, mampu mengaplikasikan konsep-konsep, dan mampu memecahkan sebuah masalah-masalah yang ada.

#Marsigit Filsafat 2019
#Marsigit Philosophy 2019
#Filsafat Ilmu 2019
#PEP A 2019
#Marsigit 2019
#UNY 2019

Marsigit Filsafat 2019
Marsigit Philosophy 2019
Filsafat Ilmu 2019
PEP A 2019
Marsigit 2019
UNY 2019

Marsigit Filsafat 2019
Marsigit Philosophy 2019
Filsafat Ilmu 2019
PEP A 2019
Marsigit 2019
UNY 2019

Comments

Popular posts from this blog

Muh. Asriadi AM_Mini Proposal Disertasi UNY 2022